Assalaamu'Alaikum Wr. Wb.

Selamat datang Di MTs. Negeri Slawi Kabupaten Tegal, Menyiapkan generasi muda beriman, berilmu, beramal dan berakhlak.

Ustadz Pilihan

Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dan mumpuni, siap meluangkan waktu untuk membantu siswa-siswinya.

Praktek Mengurus Jenazah

Siswa-siswi dilatih untuk mengurus jenazah, dari memandikan, mengkafani, menyolati dan mengubur jenajah.

Latihan Manasik Haji

Pemahaman keagamaan dilakukan melalui teori dan kegiatan praktikum.

Kegiatan Ekstrakurikuler

Berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler dan keagamaan, untuk menjaga ketahanan phisik dan mental siswa.

Drum Band MTsN Slawi

Drum Band MTs. Negeri Slawi selalu berkiprah dalam setiap perayaan HUT Kemerdekaan RI dan even-even lain.

Pramuka MTsN Slawi

Pramuka MTs. Negeri Slawi membekali para siswa keterampilan sosial dan jiwa patriotisme.

Prestasi Siswa

Memberi kesempatan siswa untuk berprestasi sesuai dengan bakat dan keterampilan yang dimiliki.

Bording School

Program baru, Bording School akan dibuka pada Tahun Pelajaran 2016/2017.

23/03/16

Analisis Terhadap Kualitas Butir Soal UTS IPA Kelas VIII


                                                                             ABSTRAK                                                                                


Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, daya beda, dan distraktor butir soal buatan guru mata pelajaran IPA kelas VIII MTs. Negeri Slawi Kabupaten Tegal Tahun Pelajaran 2015/2016. Sampel diambil dengan teknik sampling jenuh. Instrumen dalam penelitian ini adalah lembar soal ulangan harian buatan guru mata pelajaran IPA kelas VIII, yang berjumlah 20 soal pilihan ganda. Analisis validitas konstruk soal pilihan ganda dilihat dari segi materi, konstruksi dan bahasa telah sesuai, ada beberapa soal yang masih perlu diperbaiki dari segi konstruksi. Analisis validitas butir soal UH 1 menunjukan 40% soal valid; reliabilitas sebesar 0,76 artinya memiliki keajegan tinggi; tingkat kesukaran butir soal 40% sukar, 55% sedang dan 5% soal mudah; daya beda 45% jelek, 35% cukup dan 20% baik; 80% pengecoh berfungsi. Pada UH 2 60% soal valid; reliabilitas sebesar 0,78 artinya memiliki keajegan tinggi; 35% soal sukar dan 65% soal sedang; daya beda 30% jelek, 45% cukup dan 25% baik; 75% pengecoh berfungsi.

Kata kunci: Kualitas Soal, Butir Soal, Pelajaran IPA

Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Dalam Memahami Getaran Dan Gelombang Melalui Pengunaan Metode Praktikum Dengan Bantuan Alat Sederhana Pada Siswa Kelas VIII.C MTs. Negeri Slawi Kabupaten Tegal Tahun Pelajaran 2014/2015

                                                                                  ABSTRAK 

Penelitian perbaikan pembelajaran ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA konsep getaran dan gelombang melalui metode praktikum dengan bantuan alat sederhana. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII.D MTs Negeri Slawi Kebupaten Tegal. Data penelitian perbaikan pembelajaran dikumpulkan melalui dua cara, yaitu observasi yang dilakukan oleh teman sejawat dan tes formatif di setiap akhir siklus. Data selanjutnya dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan metode induktif, deduktif dan komparatif serta deskriptif kuantitatif dengan rumus prosentse untuk melihat peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dari prasiklus sampai siklus II. Dari hasil dan pembahasan diperoleh simpulan bahwa metode praktikum dengan bantuan alat sederhana dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VIII.D MTs Negeri Slawi Kebupaten Tegal semester genap tahun pelajaran 2014/2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa meningkat secara signifikan. Demikian juga untuk hasil belajarnya, dari 35 siswa yang menjadi subjek penelitian, pada siklus I hanya 9 siswa (25,71%) yang tuntas secara individual, kemudian meningkat menjadi 29 siswa (82,86%). Sementara itu, rata-rata kelas yang dicapai pada siklus pertama hanya 73,51 dan meningkat menjadi 80,54 pada siklus kedua dengan KKM 80.

Kata Kunci: Praktikum, Aktivitas dan Hasil Belajar, Getaran dan Gelombang

01/06/14

Ciri-Ciri Guru Profesional

Dalam menjalankan tugas guru memiliki cara penyampaian dan kepribadian yang berbeda. Apabila guru telah menemukan prinsip dan tabiatnya, profil yang dimiliki tidak bisa disamakan dengan profil guru yang lain. Dalam mengajar guru yang profesional mampu menyampaikan ilmu pengetahuan, keterampilan dan menggunakan cara tertentu sebagai pengetahuan tersebut yang dapat dimiliki orang lain. Berdasarkan UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD) pasal 10 ayat 1 ciri-ciri guru profesional sebagai berikut: 1. Mempunyai kompetensi pedagogik Yaitu meyangkut kemampuan mengelola pembelajaran. Pengelolaan pembelajaran yang dimaksudkan tidak terlepas dari tugas pokok yang harus dikerjakan guru. Tugas-tugas tersebut menyangkut: Merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan menilai hasil pembelajaran. Selain tugas pokok dalam pengelolaan pembelajaran, guru juga melakukan bimbingan dan latihan dalam kegiatan ekstrakulikuler, serta melaksanakan tugas tambahan yang diamanahkan oleh lembaga pendidikan. 2. Mempunyai kompetensi kepribadian Yaitu menyangkut kepribadian yang mantap, berahlak mulia, arif, berwibawa dan menjadi teladan bagi peserta didik. 3. Mempunyai kompetensi profesi Yaitu menyangkut penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam. Sebagai tenaga pendidik dalam bidang tertentu sudah merupakan kewajiban untuk menguasai materi yang menyangkut bidang tugas yang diampu. Apabila seorang guru tidak menguasai materi secara luas dan mendalam, bagaimana mungkin mampu memahami persoalan pembelajaran yang dihadapi di sekolah. Oleh karena itu, untuk menjadi profesional dalam bidang tugas yang diampu harus mempelajari perkembangan pengetahuan yang berkaitan dengan hal tersebut. 4. Mempunyai kompetensi sosial Yaitu menyangkut kemampuan guru berkomunikasi dan berinteraksi dengan peserta didik, sesama guru, wali murid dan masyarakat. Kemampuan berkomunikasi dengan baik merupakan salah satu penentu keberhasilan seseorang dalam kehidupan. Komunikasi dan interaksi yang diharapkan muncul antara guru dengan siswa berkaitan dengan interaksi yang akrab dan bersahabat. Dengan demikian diharapkan peserta didik memiliki keterbukaan dengan gurunya.

15/04/14

Majalah At Tarbiyah, Kini Ber-ISSN

Kini majalah MTsN Slawi, At Tarbiyah, telah ber-ISSN (International Standard of Serial Number). Ini berarti bahwa majalah ini kini bisa dijadikan sebagai bukti phisik untuk kenaikan pangkat dan golongan para guru, jika karya mereka yang berupa artikel, karya ilmiah, makalah, hasil penelitian dan laporan PTK dimuat pada majalah At Tarbiyah. Oleh karena itu, kami mengundang para guru untuk mengirim naskah artikel, makalah, laporan PTK dan lain-lain yang dimilikinya untuk diterbitkan pada majalah ini. Tentunya tidak serta-merta naskah yang dimuat akan diterbitkan, karena ada persyaratkan yang harus dilengkapi tentang penulisannya. Jika memnuhi kaidah penulisan, maka akan diterbitkan dan jika tidak maka harus diperbaikinya. Tentunya ini dibutuhkan pemahaman para guru tentang cara dan aturan penulisan untuk artikel, makalah, laporan PTK dan lain sebagainya. Berikut ini disajikan gambar sampul depan beserta nomor ISSN dan kode bar (barcode) dari majalah At Tarbiyah 


05/04/14

Publikasi Ilmiah, ISBN Untuk IV/a butuh?


Publikasi ilmiah adalah karya tulis ilmiah yang telah dipublikasikan kepada masyarakat sebagai bentuk kontribusi guru terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah dan pengembangan dunia pendidikan secara umum. Publikasi ilmiah mencakup 3 kelompok kegiatan, yaitu: a. presentasi pada forum ilmiah; sebagai pemrasaran/nara sumber pada seminar, lokakarya ilmiah, koloqium atau diskusi ilmiah (angka kredit 0,2) ; b. publikasi ilmiah hasil penelitian atau gagasan inovatif pada bidang pendidikan formal. Publikasi ilmiah ini mencakup pembuatan: 1) Karya tulis berupa laporan hasil penelitian pada bidang pendidikan di sekolahnya yang:  Diterbitkan/dipublikasikan dalam bentuk buku yang ber-ISBN dan diedarkan secara nasional atau telah lulus dari penilaian BNSP ( angka kredit 4).  Diterbitkan/dipublikasikan dalam majalah/jurnal ilmiah tingkat nasional yang terakreditasi (angka kredit 3), provinsi (angka kredit 2), dan tingkat kabupaten/kota (angka kredit 1),  Diseminarkan di sekolah dan disimpan di perpustakaan (angka kredit 4). 2) Makalah berupa tinjauan ilmiah di bidang pendidikan formal dan pembelajaran tidak diterbitkan, disimpan di perpustakaan (angka kredit 2). 3) Tulisan ilmiah populer di bidang pendidikan dan pembelajaran pada satuan pendidikan yang dipublikasikan melalui media massa (media online / internet, majalah dan surat kabar tingkat nasional (angka kredit 2) dan koran daerah /tingkat propinsi (angka kredit 1,5) ). 4) Artikel ilmiah bidang pendidikan dan pembelajaran yang dimuat di:  jurnal tingkat nasional yang terakreditasi (angka kredit 2);  jurnal tingkat nasional yang tidak terakreditasi/tingkat provinsi (angka kredit 1,5);  jurnal tingkat lokal (kabupaten/kota/sekolah/-madrasah (angka kredit 1), dsb. c. publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan dan/atau pedoman guru. Publikasi ini mencakup pembuatan: 1) Buku pelajaran per tingkat atau buku pendidikan per judul yang:  lolos penilaian BSNP (angka kredit 6)  dicetak oleh penerbit dan ber-ISBN (angka kredit 3)  dicetak oleh penerbit dan belum ber-ISBN (angka kredit 1) 2) Modul/diklat pembelajaran per semester yang digunakan di tingkat:  Provinsi dengan pengesahan dari Dinas Pendidikan Provinsi (angka kredit 1,5);  Kabupaten/kota dengan pengesahan dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota (angka kredit 1);  Sekolah/madrasah setempat ( angka kredit 0,5). 3) Buku dalam bidang pendidikan dicetak oleh penerbit yang ber-ISBN (angka kredit 3) dan/atau tidak ber-ISBN (angka kredit 1,5) ; 4) Karya hasil terjemahan yang dinyatakan oleh kepala sekolah/ madrasah tiap karya (angka kredit 1); 5) Buku pedoman guru (angka kredit 1,5). Silahkan Download buku-bukunya

18/03/14

PTK: Efektivitas Pembelajaran IPA Konsep Sistem Tata Surya melalui Penggunaan Multimedia Interaktif

SHOLAHUDDIN AHMAD. NIP : 196705201994031003, 2013. “Efektivitas Pembelajaran IPA Konsep Sistem Tata Surya melalui Penggunaan Multimedia Interaktif, Suatu PTK Bagi Siswa Kelas IX.G Semester Genap, MTs. Negeri Slawi Kab. Tegal, Tahun Pelajaran 2012/2013”.

Kata Kunci: Efektivitas Pembelajaran, Sistem Tata Surya, Multimedia Interaktif

Permasalahan yang diangkat pada penelitian tindakan kelas ini adalah: apakah penggunaan multimedia interaktif pada konsep Sistem Tata Surya, dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran konsep tersebut serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa Kelas IX.G Semester Genap MTs. Negeri Slawi Kabupaten Tegal Tahun Pelajaran 2012/2013?

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penggunaan multimedia interaktif pada konsep Sistem Tata Surya dalam meningkatkan hasil belajar siswa Kelas IX.G Semester Genap MTs. Negeri Slawi Kabupaten Tegal Tahun Pelajaran 2012/2013. Subyek penelitian ini adalah siswa Kelas IX.G Semester Genap MTs. Negeri Slawi Kabupaten Tegal Tahun Pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 38 siswa, terdiri atas: 22 laki-laki dan 17 perempuan. Prosedur penelitian tindakan kelas ini ditempuh dalam 2 siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: melalui penggunaan multimedia interaktif dalam pembelajaran, efektifitas belajar dan hasil belajar siswa dapat ditingkatkan.

Hasil belajar siswa pada tes akhir siklus I memiliki rata-rata kelas 58,85, sedangkan siswa yang dinyatakan tuntas mencapai 12 siswa (30,77%). Sedangkan nilai rata-rata kelas meningkat menjadi 73,46 dan sebanyak 35 siswa (89,74%) dinyatakan tuntas baik secara individual maupun klasikal. Perhatian dan antausiasme siswa meningkat, kegiatan diskusi kelompok pun sudah terlihat efektif karena siswa-siswi aktif dalam kerja kelompok, kerja-sama anggota kelompok pun semakin terarah tanpa harus terus dibimbing.

Full pdf File, see on:  https://www.academia.edu/5517651/Bab_1_2_3_4_5

30/05/13

Tentang Living Values (LVE)


Mengapa LVE? 
Anak-anak, orang muda dan masyarakat saat ini semakin terkena dampak negatif dari kekerasan, masalah sosial dan kurangnya rasa menghargai pada sesama dan dunia di sekitar mereka. Nilai-nilai kehidupan yang dianggap bisa memberi panduan bagi individu untuk menghadapi dampak negatif tersebut, dirasakan semakin luntur dan terkubur dalam. Pendidikan nilai dirasa semakin penting untuk menawarkan pengalaman positif dan memberi pilihan yang dapat memperkuat nilai-nilai kehidupan, khususnya bagi anak-anak dan remaja. 

Apakah LVE itu? 
Living Values Education adalah program pendidikan yang menawarkan pelatihan dan metodologi praktis bagi para pendidik, fasilitator, pekerja sosial, orang tua dan pendamping anak untuk membantu mereka menyediakan kesempatan bagi anak-anak dan orang muda menggali serta mengembangkan nilai-nilai universal. Program pendidikan nilai ini juga berlanjut sampai tahap bagaimana anak-anak dan orang muda dapat mengasosiasikan nilai tersebut dalam ketrampilan sosial-emosional dan intrapersonal-interpersonal mereka sehari-hari. Salah satu proses mendasar dalam program pelatihan Living Values Education adalah tiap pendidik juga diajak untuk merefleksikan dan menggali nilai pribadi mereka, agar dapat menjadi pondasi dalam menciptakan suasana belajar yang berbasis nilai. Living Values Education percaya bahwa nilai tidak diajarkan, melainkan ditangkap atau dirasakan. Murid belajar dari contoh yang diberikan pendidiknya. Oleh karena itu, sangat penting bagi tiap pendidik untuk menyadari dan terus menghidupkan nilai pribadi mereka, untuk dapat menjalani peran sebagai panutan ini secara positif. Kurikulum Living Values Education mencakup berbagai aktivitas bermuatan nilai untuk damai, menghargai, kasih sayang, kerjasama, kebahagiaan, kejujuran, kerendahan hati,tanggung jawab, kesederhanaan, toleransi, kebebasan dan persatuan. Selain digunakan dalam pendidikan formal dan informal, Living Values Education juga memiliki materi khusus untuk anak korban perang atau konflik, anak korban gempa bumi, anak jalanan, anak dalam rehabilitasi narkoba dan anak dalam penjara remaja. 

LVE di Indonesia 
Living Values Education pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada tahun 2002. Pada awalnya, aktivitas Living Values Education diinisiasi secara personal oleh beberapa trainer yang telah mengikuti pelatihan bersama LVE Internasional. Berbagai kegiatan, seminar dan pelatihan Living Values Education kemudian dilakukan di banyak kota di Indonesia. Mulai dari Banda Aceh, Tapaktuan, Jakarta, Bogor, Bandung,Subang, Sukabumi, Yogyakarta, Salatiga, Solo, Kupang, Tabanan, Singaraja, sampai di Ambon dan Ternate. Program dan aktivitas Living Values Education tersebut tidak hanya dilakukan dalam lingkungan pendidikan, namun juga di kamp pengungsian, dalam komunitas maupun institusi lainnya. Pada tanggal 1 Desember 2008, Yayasan Karuna Bali ditunjuk menjadi perwakilan Asosiasi Living Values Education di Indonesia oleh ALiVE (Asosiasi LVE) Internasional. Yayasan Karuna Bali mengemban tugas sebagai payung hukum, mengeluarkan akreditasi pelatih dan mengkoordinasi kegiatan-kegiatan Living Values Education di Indonesia.

20/05/13

Kebangkitan Nasional (Ke-105)

Hari ini kita semua memperingati hari kebangkitan nasional (Ke-105), hari lahirnya Boedi Oetomo, sebuah organisasi yang menjadi pelopor bagi bangkitnya persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia dalam mencapai kemerdekaan. Organisasi ini diprakarsai oleh: Dr. Sutomo dan Dr. Wahidin Sudirohusodo beserta kawan-kawan. Kita semua mengetahui bahwa, Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari tidak kurang 13.000 pulau yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Beragam suku bangsa, bahasa dan agama juga menjadi hal yang unik dari Bangsa Indonesia. Keunikan inilah yang menjadi salah satu penyebab terjadinya perpecahan dan gesekan-gesekan, sampai pada terjadinya perang antar suku. Hal ini terjadi karena kurang terbinanya semangat kebersamaan, persatuan dan kesatuan. Selama masa penjajahan semangat kebangkitan nasional tidak pernah muncul hingga berdirinya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908, yang menjadi pelopor bagi kebangkitan para pemuda dalam mencapai kemerdekaan negara republik Indonesia.Kebangkitan nasional ini kemudian melahirkan ikrar Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Anak-anaku sekalian, marilah, momen pentng dari hari kebangkitan nasional ini, kita gunakan untuk memotivasi diri kita agar lebih baik dan semangat dalam belajar sehingga cita-cita kita dapat tercapai sesuai dengan keinginan. Perjuangan dan pengorbanan dari orang tua kita yang membiayai sekolah tidak sia-sia karena diiringi dengan prestasi yang dicapai putra-putrinya di sekolah.

04/02/13

Kriteria Kelulusan UN 2012/2013

Kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan ditentukan oleh satuan pendidikan berdasarkan rapat Dewan Guru dengan menggunakan kriteria sebagai berikut: 1. Menyelesaikan seluruh program pembelajaran 2. Memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan; 3. Lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; dan 4. Lulus Ujian Nasional KRITERIA KELULUSAN UJIAN NASIONAL 1. Peserta didik dinyatakan lulus US/M SMP/MTs, SMPLB, SMA/MA, SMALB, dan SMK apabila peserta didik telah memenuhi kriteria kelulusan yang ditetapkan oleh satuan pendidikan berdasarkan perolehan Nilai S/M. 2. Nilai S/M sebagaimana dimaksud pada nomor 1 diperoleh dari: • gabungan antara nilai US/M dan nilai rata-rata rapor semester 1, 2, 3, 4, dan 5 untuk SMP/MTs dan SMPLB dengan pembobotan 60% untuk nilai US/M dan 40% untuk nilai rata-rata rapor. • gabungan antara nilai US/M dan nilai rata-rata rapor semester 3, 4, dan 5 untuk SMA/MA, dan SMALB dengan pembobotan 60% untuk nilai US/M dan 40% untuk nilai rata-rata rapor. • gabungan antara nilai US/M dan nilai rata-rata rapor semester 1 sampai 5 untuk SMK dengan pembobotan 60% untuk nilai US/M dan 40% untuk nilai rata-rata rapor. 3. Kelulusan peserta didik dari UN ditentukan berdasarkan NA. 4. Nilai Kompetensi Keahlian Kejuruan adalah: • gabungan antara nilai Ujian Praktik Keahlian Kejuruan dan nilai Ujian Teori Kejuruan dengan pembobotan 70% untuk nilai Ujian Praktik Keahlian Kejuruan dan 30% untuk nilai Ujian Teori Keahlian Kejuruan; • kriteria Kelulusan Kompetensi Keahlian Kejuruan adalah minimum 6,0 ; 5. NA sebagaimana dimaksud pada butir nomor 3 diperoleh dari gabungan Nilai S/M dari mata pelajaran yang diujinasionalkan dengan Nilai UN, dengan pembobotan 40% untuk Nilai S/M dari mata pelajaran yang diujinasionalkan dan 60% untuk Nilai UN. 6. Pembulatan nilai gabungan nilai S/M dan nilai rapor dinyatakan dalam bentuk dua desimal, apabila desimal ketiga ≥ 5 maka dibulatkan ke atas. 7. Pembulatan nilai akhir dinyatakan dalam bentuk satu desimal, apabila desimal kedua ≥ 5 maka dibulatkan ke atas. 8. Peserta didik dinyatakan lulus UN apabila nilai rata-rata dari semua NA sebagaimana dimaksud pada butir nomor 5 mencapai paling rendah 5,5 (lima koma lima) dan nilai setiap mata pelajaran paling rendah 4,0 (empat koma nol). 9. Kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan ditetapkan oleh satuan pendidikan melalui rapat dewan guru berdasarkan kriteria kelulusan sebagaimana dimaksud pada VI.

11/12/12

Kurikulum 2013

Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan bagian dari strategi meningkatkan capaian pendidikan. Disamping kurikulum, terdapat sejumlah faktor diantaranya: lama siswa bersekolah; lama siswa tinggal di sekolah; pembelajaran siswa aktif berbasis kompetensi; buku pegangan atau buku babon; dan peranan guru sebagai ujung tombak pelaksana pendidikan. Orientasi Kurikulum 2013 adalah terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge). Hal ini sejalan dengan amanat UU No. 20 Tahun 2003 sebagaimana tersurat dalam penjelasan Pasal 35: kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati. Hal ini sejalan pula dengan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu. Sejumlah hal yang menjadi alasan pengembangan Kurikulum 2013 adalah (a) Perubahan proses pembelajaran [dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu] dan proses penilaian [dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output] memerlukan penambahan jam pelajaran; (b) Kecenderungan akhir-akhir ini banyak negara menambah jam pelajaran [KIPP dan MELT di AS, Korea Selatan]; (c) Perbandingan dengan negara-negara lain menunjukkan jam pelajaran di Indonesia relatif lebih singkat, dan (d) Walaupun pembelajaran di Finlandia relatif singkat, tetapi didukung dengan pembelajaran tutorial Sementara itu, Kurikulum 2006 memuat sejumlah permasalahan diantaranya: (1) Kurikulum belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional; (2) Kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan pengetahuan; (3) Beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam kurikulum; (4) Kurikulum belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global; (5) Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru; (6) Standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (proses dan hasil) dan belum secara tegas menuntut adanya remediasi secara berkala; dan (7) Dengan KTSP memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak menimbulkan multi tafsir. Tiga faktor lainnya juga menjadi alasan Pengembangan Kurikulum 2013 adalah, pertama, tantangan masa depan diantaranya meliputi arus globalisasi, masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi informasi, konvergensi ilmu dan teknologi, dan ekonomi berbasis pengetahuan. Kedua, kompetensi masa depan yang antaranya meliputi kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir jernih dan kritis, kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan, kemampuan menjadi warga negara yang efektif, dan kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda. Ketiga, fenomena sosial yang mengemuka seperti perkelahian pelajar, narkoba, korupsi, plagiarisme, kecurangan dalam berbagai jenis ujian, dan gejolak sosial (social unrest). Yang keempat adalah persepsi publik yang menilai pendidikan selama ini terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif, beban siswa yang terlalu berat, dan kurang bermuatan karakter. Selanjutnya, seperti yang akan Anda temukan nanti, berbagai aspek dalam Pengembangan Kurikulum 2013 dapat Anda beri tanggapan melalui laman http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id ini. Anda dapat menggunakan kesempatan baik ini untuk memberi masukan, kritik, dan saran hingga tanggal 24 Desember 2012. Untuk memaksimalkan uji publik serta agar setiap tanggapan dapat kami rekam dengan baik guna pengolahan lebih lanjut, pelaksanaan uji publik ini dilaksanakan dengan mekanisme sebagai berikut: Anda diminta mengunduh rancangan Kurikulum 2013 yang tersedia dalam bentuk PDF pada laman http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id ini (klik disini untuk mengunduh). Dalam setiap halaman rancangan Kurikulum 2013 tersebut, terdapat ruang untuk Anda memberi tanggapan. Bilamana Anda hendak memasukkan tanggapan melalui laman http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id, kami minta Anda terlebih dahulu mengisi identitas diri dalam lembar isian yang tersedia. Jika ada hal-hal yang ingin disampaikan lebih lanjut bisa melalui email: ujipublik.kurikulum@kemdikbud.go.id Atas partisipasi Anda dalam Pengembangan Kurikulum 2013 kami sampaikan terima kasih. Untuk melanjutkan klik disini. Salam, Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

21/08/12

Menjadi Hamba Yang Mensyukuri Nikmat


          Ahlan wa sahlan wa marhaban bi khuduurikum fii madrosatinaa  ….
          Welcome to MTsN Slawi  …. Selamat datang di MTs. Negeri Slawi bagi peserta didik yang telah dinyatakan lulus dan diterima sebagai siswa madrasah. Kami segenap warga madrasah juga mengucapkan selamat kepada siswa-siswi yang telah dinyatakan naik kelas dan lulus ujian nasional tahun pelajaran 2011/2012. Congratulations to students who have risen to take classes and pass the national examination in school year 2011/2012
          Kalian semua wajib mensyukuri nikmat atas semua berkah dan rizki yang telah diterimanya. Karena Alloh SWT kamu dapat diterima di MTsN Slawi, karena Alloh juga kamu telah naik kelas dan lulus dalam ujian nasional. Semua itu wajib dilakukan kita semua sebagai hamba Alloh SWT. Sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an surat Ibrahim ayat 7 yang artinya : “ Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
          Peringatan dari Allah SWT untuk mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kepada manusia, bahwa jika manusia mensyukuri nikmat-Nya maka akan ditambahkan nikmat kepadanya dengan berbagai kenikmatan yang berlipat ganda. Dan jika manusia mengingkari nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya, maka Allah akan mengadzabnya dengan adzab yang sangat pedih dengan cara mencabut kenikmatan dunia dan di akhirat pun akan mendapatkan adzab yang pedih. Oleh karena itu perbanyaklah bersyukur kepada Alloh SWT.
Bersyukur dapat diwujudkan dengan hati, lisan, dan perbuatan. Syukur dengan hati, dilakukan untuk mengetahui bahwa berbagai kenikmatan tersebut berasal dari Alloh SWT. Syukur dengan lisan dilakukan dengan banyak memuji dan menyanjung Alloh SWT yang telah memberi berbagai kenikmatan. Sedangkan bersyukur dengan pebuatan dilakukan dengan cara menggunakan kenikmatan tersebut dengan sebaik-baiknya serta bersikap loyal dan rendah hati terhadap Allah SWT.
          Akhir-akhir ini, bangsa kita didera bencana yang beruntun, mulai dari bencana alam hingga kecelakaan yang merenggut begitu banyak korban jiwa. Sepanjang tahun, bencana dan kecelakaan datang silih-berganti. Boleh jadi, semua itu merupakan ujian dari Alloh SWT untuk menguji keimanan kita. Atau bisa jadi, bencana itu merupakan peringatan atau bahkan siksaan (azab) dari Alloh karena kita tidak bersyukur atas nikmat yang telah diberikan-Nya.  Semoga kita senantiasa selalu menjadi insan yang pandai bersyukur.

07/07/12

AYO KE MADRASAH


AYO KE MADRASAH …

           Alhamdulillahirobbil ‘Aalamien …. hari pertama pendaftaran MTs. Negeri Slawi membludak. Data yang diperoleh panitia, jumlah calon peserta yang mendaftar ke kelas regular mencapai 346 peserta, sedangkan untuk kelas Full Days School (FDS) yang merupakan kelas unggulan MTsN Slawi tercatat sebanyak 105 peserta. Ini pertanda bahwa madrasah tsanawiyah kini mulai dilirik, tidak lagi dipandang sebelah mata.
          Agaknya manjur juga Gerakan 'Ayo ke Madrasah' yang dicanangkan Kementerian Agama dalam berbagai kesempatan. Sementara itu, meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan Islam mendorong para orang tua memasukkan putra-putrinya ke madrasah.

Mengapa Memilih MTsN Slawi?
          Berdasarkan hasil wawancara singkat dengan orang tua/wali yang mendaftarkan putra/putrinya ke MTsN Slawi, ada beberapa hal yang menjadikan MTsN Slawi sebagai pilihan. Pertama, orang tua siswa rata-rata menjawab ingin membekali ilmu agama kepada anaknya, biar bisa ngaji katanya. Kedua, lah … wong kakaknya juga lulusan sini (MTsN Slawi) ya adiknya minta masuk ke MTs … jadi turun-temurun. Ketiga, ada juga yang karena teman-temannya masuk ke MTsN Slawi sehingga anaknya minta di daftarkan. Selanjutnya, letaknya yang strategis dan mudah dijangkau kendaraan juga merupakan alasan beberapa orang tua yang kebetulan ditanya. Belum lagi, karena bapaknya atau ibunya yang dines di kota Slawi, sekalian biar berangkatnya bareng katanya.
          Ternyata, hasil wawancara singkat dan acak ini, tidak ada yang menyinggung tentang mutu MTsN Slawi secara umum. Apakah mereka tidak mengetahui? Atau pertanyaannya yang kurang mengena, sehingga tidak satu pun yang mengungkap tentang kualitas MTsN Slawi. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami ingin berbagi informasi tentang keberadaan MTsN Slawi.

1.      Visi dan Misi Madrasah
Visi:
Terbentuknya Generasi Muda Islam Yang Beriman, Berilmu, Dan Berakhlaq Mulia”

Misi:
a.    Menanamkan dasar-dasar keilmuan melalui berbagai disiplin ilmu yang dijabarkan dalam mata pelajaran umum dan agama Islam serta mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
b.    Membangun dan mengembangkan kecakapan hidup (life skill) yang bersandar pada akhlaqul karimah, yang meliputi:
§  Kecakapan mengenal diri (personal skill) melalui penghayatan diri sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
§  Kecakapan berpikir rasional (thinking skill) untuk menggali dan menemukan informasi, mengolah informasi dan mengambil keputusan, sehingga dapat memecahkan masalah secara kreatif dan bijaksana.
§  Kecakapan sosial (social skill) melalui penghayatan diri sebagai anggota masyarakat dan warga negara dengan cara membangun demokrasi dalam kelas di lingkungan madrasah.
§  Kecakapan akademik (academic skill) dengan cara membangun kemampuan berpikir ilmiah melalui kegiatan, wawancara, observasi dan pelaksanaan penelitian sederhana.
§  Kecakapan vokasional/kejuruan (vocational skill) melalui kegiatan pengenalan dan pengembangan teknologi dan keterampilan dasar untuk memberi bekal hidup di masa yang akan datang.

2.      Kurikulum
        Kurikulum yang digunakan adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dikembangkan berdasarkan Standar Isi.

3.      Ketenagaan
a.       Jumlah Guru : 84 orang (S2 = 8 orang, S.1 = 72 orang, D3 = 4 orang)
b.      Jumlah Pegawai: 21 orang (16 orang tenaga administrasi dan 5 orang tenaga kebersihan)

        Untuk meningkatkan mutu ketenagaan, dilakukan berbagai kegiatan workshop dan seminar baik yang dilakukan sendiri, maupun dengan cara mengirim guru/karyawan dalam pelatihan yang dilaksanakan oleh Kanwil Kemenag Provinsi jawa Tengah.

4.      Sarana dan Pra Sarana yang dimiliki
        Untuk menunjang peningkatan mutu pendidikan, berbagai upaya dilakukan dengan melengkapi sarana dan pra sarana kegiatan pembelajaran, yang meliputi:
a.       Ruang kelas berjumlah lebih dari 50 ruang
b.      Perpustakaan, lebih dari 60 ribu buku, berbagai mata pelajaran
c.       Laboratorium bahasa (36 Unit)
d.      Laboratorium Komputer (40 Unit) 3 Lapotop kelas
e.       Laboratorium IPA
f.       Ruang Keterampilan Menjahit
g.      Ruang Kesenian, Seperangkat Alat Musik Band, dan Terbang Jawa
h.      LCD = 8 buah, TV dan DVD = 9 buah, CD Pembelajaran berbagai mata pelajaran, Camera Digital dan Handycam
i.        Seperangkat Alat Manasik haji

5.      Program Kesiswaan
        Aspek yang dikembangkan pada program kesiswaan meliputi: Aspek Moral dan Agama, Etika, Kognitif, Afektif, Motorik, Bahasa, Sosial, Emosional, Seni dan Budaya yang dilakukan melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a.       Kegiatan Ekstrakurikuler: PMR, Pramuka, Drum band, KIR, Olah raga dan Atletik
b.      Sholat Dzuhur berjamaah
c.       Sholat Dhuha, ketika istirahat
d.      Kantin Kejujuran
e.       Program Adiwiyata (Kebersihan Lingkungan Sekitar) melalui Jum’at Bersih
f.       Gerakan Infaq dan sodakoh tiap Jum’at
g.      Les Komputer dan bahasa
h.      Kajian Kitab, setiap Jum’at
i.        Mengkuti berbagai lomba olah raga/atletik, lomba mapel dan ketangkasan lain
j.        Mengkuti Popda Kabupaten dan Porseni Provinsi jawa Tengah

          Memang tepat pilihan orang tua yang memasukkan putra-putrinya ke MTsN Slawi. Di Madrasah ini, pendidikan agama Islam porsinya lebih banyak dibandingkan sekolah formal lainnya. Karena Madrasah lebih menekankan pada pendidikan akhlak, namun tetap memberikan pelajaran formal lain seperti di sekolah umum. Penekanan pada pendidikan agama ini dimaksudkan agar para siswa memiliki budi pekerti luhur sehingga tidak mudah terjerumus dalam budaya modern kebarat-baratan yang bertentangan dengan kaidah keislaman. Dengan pemberian porsi lebih pada pendidikan spiritual atau agama, diharapkan para lulusan madrasah dapat membentengi dirinya memilah budaya modern.
          Kemudian, sebagai strategi dalam peningkatan mutu pendidikan madrasah, MTsN Slawi, melaksanakan apa yang dincanangkan Kementerian Agama, yakni: "Panca Prestasi Madrasah", yaitu: (i) Prestasi Akhlaq Mulia, (ii) Prestasi Ilmu Keagamaan, (iii) Prestasi Sains dan Teknologi, (iv) Prestasi Bahasa dan Budaya, dan (v) Prestasi Olah raga dan Seni.






26/04/12

Penciptaan Alam Semesta ~ FULL DAY SCHOOL

Penciptaan Alam Semesta ~ FULL DAY SCHOOL
Dapatkan artikel menarik di FDS MTs. Negeri Slawi
Kab. Tegal di :  http://www.fdsmtsnslawi.co.cc/

07/04/12

Baru: Kenaikan Pangkat/Jabatan Guru

Untuk menjadi bahan perhatian para guru dan kepala sekolah/madrasah, bahwa saat ini sudah ada aturan baru acuan untuk kenaikan pangkat dan jabatan guru (termasuk kepala sekolah), yaitu Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan reformasi Birokrasi (PermenPANRB) No. 16 Tahun 2009 Tanggal 10 Nopember 2009. Aturan ini akan mulai diimplementasikan mulai Tahun 2011. Yang berbeda dari aturan sebelumnya adalah :


1. Kenaikan pangkat dari III/a ke III/b wajib melaksanakan kegiatan pengembangan diri (pelatihan dan kegiatan kolektif guru) yang besarnya 3 angka kredit.
2. Kenaikan pangkat dari III/b ke III/c wajib melaksanakan kegiatan pengembangan diri (pelatihan dan kegiatan kolektif guru) yang besarnya 3 angka kredit dan publikasi ilmiah/karya inovatif (karya tulis ilmiah, membuat alat peraga, alat pelajaran, karya teknologi/seni) dengan 4 angka kredit.
3. Kenaikan pangkat dari III/c ke III/d wajib melaksanakan kegiatan pengembangan diri (pelatihan dan kegiatan kolektif guru) yang besarnya 3 angka kredit dan publikasi ilmiah/karya inovatif (karya tulis ilmiah, membuat alat peraga, alat pelajaran, karya teknologi/seni) dengan 6 angka kredit.
4. Kenaikan pangkat dari III/d ke IV/a wajib melaksanakan kegiatan pengembangan diri (pelatihan dan kegiatan kolektif guru) yang besarnya 4 angka kredit dan publikasi ilmiah/karya inovatif (karya tulis ilmiah, membuat alat peraga, alat pelajaran, karya teknologi/seni) dengan 8 angka kredit.
5. Kenaikan pangkat dari IV/a ke IV/b wajib melaksanakan kegiatan pengembangan diri (pelatihan dan kegiatan kolektif guru) yang besarnya 4 angka kredit dan publikasi ilmiah/karya inovatif (karya tulis ilmiah, membuat alat peraga, alat pelajaran, karya teknologi/seni) dengan 12 angka kredit.
6. Kenaikan pangkat dari IV/b ke IV/c wajib melaksanakan kegiatan pengembangan diri (pelatihan dan kegiatan kolektif guru) yang besarnya 4 angka kredit dan publikasi ilmiah/karya inovatif (karya tulis ilmiah, membuat alat peraga, alat pelajaran, karya teknologi/seni) dengan 12 angka kredit (dan harus presentasi di depan tim penilai).
7. Kenaikan pangkat dari IV/c ke IV/d wajib melaksanakan kegiatan pengembangan diri (pelatihan dan kegiatan kolektif guru) yang besarnya 5 angka kredit dan publikasi ilmiah/karya inovatif (karya tulis ilmiah dengan 14 angka kredit.
8. Kenaikan pangkat dari IV/d ke IV/e wajib melaksanakan kegiatan pengembangan diri (pelatihan dan kegiatan kolektif guru) yang besarnya 5 angka kredit dan publikasi ilmiah/karya inovatif (karya tulis ilmiah, membuat alat peraga, alat pelajaran, karya teknologi/seni) dengan 20 angka kredit.
Juga nanti angka kredit dari unsur Pembelajaran/Pembimbingan akan dinilai dengan Instrumen Penilaian Kinerja. Untuk jelasnya nanti tunggu aja sosialisasi dari Ditjen PMPTK atau Biro Kepegawaian.

27/02/12

Bukti Phisik Bagi Guru


Pengelolaan kelas mengikuti kaidah:
a. guru mengatur tempat duduk sesuai dengan karakteristik siswa dan mata pelajaran, serta aktivitas pembelajaran yang akan dilakukan;
b. volume dan intonasi suara guru dalam proses pembelajaran harus dapat didengar dengan baik oleh siswa;
c. tutur kata guru santun dan dapat dimengerti oleh siswa;
d. guru menyesuaikan materi pelajaran dengan kecepatan dan kemampuan belajar siswa;
e. guru menciptakan ketertiban, kedisiplinan, kenyamanan, keselamatan, dan kepatuhan pada peraturan dalam menyelenggarakan proses pembelajaran;
f. guru memberikan penguatan dan umpan balik terhadap respons dan hasil belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung;
g. guru menghargai siswa tanpa memandang latar belakang agama, suku, jenis kelamin, dan status sosial ekonomi;
h. guru menghargai pendapat siswa;
i. guru memakai pakaian yang sopan, bersih, dan rapi;
j. pada tiap awal semester, guru menyampaikan silabus mata pelajaran yang diajarkannya; dan
k. guru memulai dan mengakhiri proses pembelajaran sesuai dengan waktu yang dijadwalkan.

Jawaban dibuktikan dengan melakukan pengamatan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru. (Hasil supervisi guru dalam KBM)

Pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran, yaitu:
1) Kegiatan pendahuluan. Dalam kegiatan pendahuluan, guru:
a. menyiapkan siswa secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran;
b. mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari;
c. menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai;
d. menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai dengan silabus.
2) Kegiatan inti (eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi).
A. EKSPLORASI, Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
1. melibatkan siswa mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;

2. menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran dan sumber belajar lain;
3. memfasilitasi terjadinya interaksi antarsiswa serta antara siswa dengan guru, lingkungan dan sumber belajar lainnya;
4. melibatkan siswa secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan
5. memfasilitasi siswa melakukan percobaan di laboratorium, studio atau lapangan.
B. ELABORASI, Dalam kegiatan elaborasi, guru:
1. membiasakan siswa membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;
2. memfasilitasi siswa melalui pemberian tugas, diskusi dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;
3. memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah dan bertindak tanpa rasa takut;
4. memfasilitasi siswa dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;
5. memfasilitasi siswa berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;
6. memfasilitasi siswa membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis secara individual maupun kelompok;
7. memfasilitasi siswa untuk menyajikan hasil kerja secara individual maupun kelompok.
8. memfasilitasi siswa melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;
9. memfasilitasi siswa melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri siswa.

C. KONFIRMASI, Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
1. memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan siswa;
2. memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi siswa melalui berbagai sumber;
3. memfasilitasi siswa melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan;
4. memfasilitasi siswa untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar:
a) berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan siswa yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar;
b) membantu menyelesaikan masalah;
c) memberi acuan agar siswa dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi;
d) memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh; dan
e) memberikan motivasi kepada siswa yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.

3) Kegiatan Penutup
Dalam kegiatan penutup, guru:
a. bersama-sama dengan siswa dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran;
b. melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
c. memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
d. merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar siswa;
e. menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

Jawaban dibuktikan dengan melakukan observasi secara acak, hasil supervisi kepala sekolah/madrasah, dan kesesuaian RPP dengan pelaksanaan proses pembelajaran.

1. Periksalah kelengkapan Perangkat Akreditasi SMP/MTs yang terdiri atas:
a. Instrumen Akreditasi SMP/MTs.
b. Petunjuk Teknis (Juknis) Pengisian Instrumen Akreditasi SMP/MTs.
c. Instrumen Pengumpulan Data dan Informasi Pendukung Akreditasi SMP/MTs, dan
d. Teknik Penskoran dan Pemeringkatan Hasil Akreditasi SMP/MTs.
Keempat dokumen ini merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Oleh karena itu, sebelum memilih jawaban pada butir-butir pernyataan ins-trumen Saudara harus mempelajari/memahami Juknis Pengisian Instrumen Akreditasi dan mengisi Instrumen Pengumpulan Data dan Informasi Pen-dukung Akreditasi.
2. Isilah instrumen akreditasi SMP/MTs dengan cara memberi tanda ceklis () pada kotak opsi jawaban yang sesuai yaitu “A”, “B”, “C”, “D”, atau “E” pa-da butir instrumen yang meliputi 8 (delapan) komponen sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan:
a. Komponen standar isi nomor 1 — 17.
b. Komponen standar proses nomor 18 — 29.
c. Komponen standar kompetensi lulusan nomor 30 — 49.
d. Komponen standar pendidik dan tenaga kependidikan nomor 50 — 75.
e. Komponen standar sarana dan prasarana nomor 76 — 103.
f. Komponen standar pengelolaan nomor 104 — 123.
g. Komponen standar pembiayaan nomor 124 — 148.
h. Komponen standar penilaian nomor 149 — 169.
3. Jawablah semua butir secara obyektif dan jujur sesuai dengan keadaan se-benarnya yang ada di sekolah/madrasah Saudara.
4. Siapkanlah seluruh bukti fisik seperti dipersyaratkan dalam Juknis Pengi-sian Instrumen Akreditasi SMP/MTs dan Instrumen Pengumpulan Data dan Informasi Pendukung Akreditasi SMP/MTs yang akan digunakan oleh Tim Asesor pada saat melakukan klarifikasi, verifikasi, dan validasi.
5. Sebelum mengisi Instrumen Akreditasi SMP/MTs ini, isilah terlebih dahulu (a) pernyataan kepala sekolah/madrasah; dan (b) data identitas sekolah/ madrasah.

22/02/12

Tips Menghadapi Akreditasi Sekolah

Setelah mengikuti Diklat Akreditasi 2009 yang cukup membingungkan, hampir tanpa hasil dan terkesan sangat njlimet (ma'af kepada penyelenggara diklat), maka mari kita mencoba menyederhanakan semuanya menjadi lebih simpel tanpa mengurangi makna dan tujuan akreditasi baik dari sisi perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi. Akreditasi yang dilakukan oleh BAN (Badan Akreditasi Nasional) merupakan suatu evaluasi secara keseluruhan dari suatu lembaga pendidikan dalam pelaksanaan dan pelayanan pendidikan kepada masyarakat. BAN akan memotret secara lebih mendetail terhadap suatu lembaga pendidikan dan hal ini yang membuat sekolah merasa perlu juga untuk memberikan suatu pemandangan indah terhadap hasil akhir photografi BAN. Tetapi bukan berarti mengadakan sesuatu yang tidak ada, biarlah pemandangan itu apa adanya sehingga naturalisme sekolah tampak dan terintegrasi dalam keseharian. BAN akan mencoba memotret sekolah dari sisi fisik (baca; bukti fisik penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan), hal ini jelas menggambarkan secara keseluruhan bagaimana lembaga pendidikan tersebut melaksanakan penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan selama 5 tahun terakhir.

Walaupun ada beberapa kelemahan dan terkesan memaksakan keadaan dilapangan dalam pelaksanaan akreditasi yang dilakukan oleh BAN tetapi bukan berarti sekolah harus meng-eksplore hal tersebut. Menjadikan instrumen akreditasi dari BAN sebagai suatu pola penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang ideal itu lebih penting daripada kita harus mengeksploitasi kesalahan yang dilakukan oleh BAN sebagai lembaga yang menyelenggarakan akreditasi.
Sekolah sebagai ujung tombak pelaksanaan dan pelayanan pendidikan kepada masyarakat haruslah bertindak ideal sesuai dengan visi dan misi sekolah itu sendiri, tindakan ideal ini membuat sekolah akan merasa siap dengan apapun yang akan dilakukan oleh pemerintah, baik berupa akreditasi, evaluasi atau apapun namanya. Hasil akhir dari akreditasi merupakan gambaran secara umum potret sekolah dilihat dari sisi pemerintah maupun dari sisi masyarakat.
Dengan hal diatas maka pihak lembaga pendidikan sangatlah perlu untuk mempersiapkan segala sesuatunya dalam menghadapi akreditasi karena sangat tidak mungkin hanya dalam waktu 2-3 hari BAN akan memotret sekolah secara menyeluruh jika pihak sekolah tidak mampu bekerja sama dengan BAN.

Berikut beberapa tips dalam menghadapi akreditasi :

1. Recording Process (Proses Perekaman)
Dalam proses ini, sekolah dengan hati-hati merekam seluruh instrumen akreditasi kepada para penyelenggara pendidikan disekolah tersebut mulai dari guru, tata usaha, dunia usaha dunia industri (DUDI) dan pihak lain yang terkait terhadap penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan di sekolah tersebut. Proses ini bisa dalam berbagai bentuk, bisa berupa IHT (In House Training), rapat terbuka atau kegiatan lain yang lebih fleksibel dan mampu memberikan kesempatan para penyelenggara pendidikan memahami secara utuh. Proses ini memang memakan waktu yang cukup lumayan tergantung keseharian penyelenggaraan pendidikan disekolah tersebut, jika idealisme penyelenggaraan pendidikan sudah merupakan kebiasaan maka proses ini sangat cepat untuk dilaksanakan. Tetapi jika sekolah tersebut kurang atau bahkan tidak melaksanakan idealisme penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan, hal ini akan menjadi hal yang sangat sulit.

2. Mixing Process (Proses Penataan)
Inilah proses yang gampang-gampang rumit, sulit dan menguras resource (baca; pikiran, tenaga dan finansial). Proses mixing adalah proses penataan ulang agar dihasilkan suatu penyelenggaraan pendidikan yang ideal, balance (berimbang) dan mengenai sasaran pelayanan pendidikan kepada masyarakat sesuai dengan instrumen-instrumen akreditasi. Inovasi-inovasi berperan disini, baik inovasi yang dilakukan oleh perorangan maupun inovasi yang dilakukan oleh sekolah secara menyeluruh dalam penataan ulang instrumen akreditasi. Jika hal ini berjalan, maka secara otomatis pula hal-hal yang diperlukan pada saat akreditasi akan terpenuhi tanpa perlu waktu lama. Hal ini tidak hanya harus dilaksanakan oleh sekolah semata tetapi harus bahkan wajib dilaksanakan oleh seluruh komponen penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan sebagai suatu sistem yang ideal.
Pemahaman ulang mengenai struktur organigram, job description (pembagian tugas), tugas dan tanggung jawab, standar pelayanan minimal, administrasi dan lain-lain mutlak harus dilaksanakan. Hal ini untuk lebih menegaskan dan mengurangi kesalahan (human error) pelaksanaan, pelayanan, dan pertanggungjawaban dalam akreditasi. Bukan hal yang aneh (bahkan hampir biasa) ketika seorang penyelenggara pendidikan tidak mampu menunjukan apa dan bagaimana mereka melaksanakan pendidikan disekolahnya.
Dalam proses ini pula sekolah perlu menata ulang instrumen akreditasi menjadi instrumen yang sederhana menurut versi sekolah masing-masing agar mudah dicerna atau mudah diimplementasikan, tetapi bukan berarti menghilangkan instrumen yang sudah dipersiapkan oleh BAN. Instrumen yang disiapkan oleh BAN adalah instumen umum dan ideal yang sangat jelas terdapat 2,3 atau lebih instrumen berbeda yang bisa saja di tunjukan dengan satu bukti.

3. Mastering Process (Proses Pengkajian)
Setelah melewati dua proses diatas, seharusnya segala hal yang berhubungan dengan instrumen akreditasi sudah tersedia atau bahkan lebih baik dari 185 instrumen yang ada. Tetapi akan menjadi tidak indah seandainya kita tidak menata ulang apa-apa yang diperlukan untuk memenuhi instrumen akreditasi tersebut. BAN akan memotret keadaan sekolah, maka kita harus menata secara keseluruhan intrumen yang ada menjadi suatu pemandangan yang indah untuk dipotret. Hal ini bisa berupa dengan menitik beratkan kebutuhan yang 185 instrumen akreditasi, atau dengan menyediakan hal-hal yang terlupakan untuk disiapkan. Sekolah bisa memberikan tanda-tanda khusus yang terkait dengan instrumen akreditasi.

Mudah-mudahan artikel ini bisa membantu sekolah-sekolah yang baru pertama kali menghadapi akreditasi atau bahkan bagi sekolah yang sudah berkali-kali kedatangan tim akreditasi. Mengenai bagaimana proses diatas dilaksanakan disekolah, akan dibahas lebih detail dalam artikel terpisah. Jadikan akreditasi sebagai suatu kegiatan yang menyenangkan dan menantang. Kritik dan saran yang membangun sangat bermanfaat bagi penulis.

Sumber: http://www.hendriono.web.id/2009/06/tips-menghadapi-akreditasi-sekolah.html