Assalaamu'Alaikum Wr. Wb.

Selamat datang Di MTs. Negeri Slawi Kabupaten Tegal, Menyiapkan generasi muda beriman, berilmu, beramal dan berakhlak.

Ustadz Pilihan

Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dan mumpuni, siap meluangkan waktu untuk membantu siswa-siswinya.

Praktek Mengurus Jenazah

Siswa-siswi dilatih untuk mengurus jenazah, dari memandikan, mengkafani, menyolati dan mengubur jenajah.

Latihan Manasik Haji

Pemahaman keagamaan dilakukan melalui teori dan kegiatan praktikum.

Kegiatan Ekstrakurikuler

Berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler dan keagamaan, untuk menjaga ketahanan phisik dan mental siswa.

Drum Band MTsN Slawi

Drum Band MTs. Negeri Slawi selalu berkiprah dalam setiap perayaan HUT Kemerdekaan RI dan even-even lain.

Pramuka MTsN Slawi

Pramuka MTs. Negeri Slawi membekali para siswa keterampilan sosial dan jiwa patriotisme.

Prestasi Siswa

Memberi kesempatan siswa untuk berprestasi sesuai dengan bakat dan keterampilan yang dimiliki.

Bording School

Program baru, Bording School akan dibuka pada Tahun Pelajaran 2016/2017.

14/07/10

Lomba Guru Berprestasi Di Bidang Pembelajaran Mandiri

Lomba Guru Berprestasi Di Bidang Pembelajaran Mandiri Berbantuan Komputer
Untuk Siswa Jenjang TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, Dan SMK/MAK
Tahun 2010


Rasional
Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan (Bovee, 1997). Media pembelajaran adalah sebuat alat yang berfungsi menyampaikan pesan pembelajaran. Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar dan bahan ajar. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampai pesan atau media.

Bentuk-bentuk stimuIus bisa dipergunakan sebagai media diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia, realita gambar bergerak atau tidak, tulisan dan suara yang direkam. Kelima bentuk stimulus ini akan membantu pembelajar mempelajari bahasa asing. Namun demikian tidaklah mudah mendapatkan kelima bentuk itu dalam satu waktu atau tempat.

Teknologi komputer adalah sebuah penemuan yang memungkinkan menghadirkan beberapa atau semua bentuk stimulus di atas sehingga pembelajaran bahasa asing akan lebih optimal. Namun demikian masalah yang timbul tidak semudah yang dibayangkan. Pengajar adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk merealisasikan kelima bentuk stimulus tersebut dalam bentuk pembelajaran. Namun kebanyakan pengajar tidak mempunyai kemampuan untuk menghadirkan kelima stimulus itu dengan program komputer sedangkan pemrogram komputer tidak menguasai metode pembelajaran.

Jalan keluarnya adalah merealisasikan stimulus-stimulus itu dalam program komputer dengan menggunakan piranti lunak yang mudah dipelajari sehingga dengan demikian para pengajar akan dengan mudah merealisasikan ide-ide pengajarannya.

Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajaran. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. Selain itu, media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan, umpan balik, dan juga mendorong siswa untuk melakukan praktek-praktek dengan benar.

Multimedia pembelajaran mandiri bagi siswa adalah bahan belajar multimedia yang dapat dimanfaatkan oleh siswa dalam proses pembelajaran mandiri yang berisi satu topik sajian yang utuh dari standar kompetensi dan kompetensi dasar tertentu yang dikembangkan dengan menggunakan berbagai software aplikasi (contoh: Powerpoint, Flash, Authoware, Frontpage, Photoshop, Foxpro, dll) dan atau bahasa pemrograman (contoh: Visual Basic, Clipper, dll) dan kesemuanya dikompilasi dalam satu paket aplikasi.

Persyaratan Karya
· Mencantumkan kurikulum yang digunakan, sasaran kelas/semester, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator serta petunjuk penggunaan program.
· Materi lomba merupakan satu indikator atau lebih dari standar kompetensi dan atau kompetensi dasar mata pelajaran TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK.
· Disajikan dengan menggunakan Bahasa Indonesia, kecuali mata pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Jawa.
· Hasil karya dilengkapi dengan petunjuk penggunaan program dalam bentuk 2 sajian, yaitu print out petunjuk pengunaan dan CD (3 keping CD copy).
· Karya original dalam ide dan kreasi yang dibuktikan dengan surat pernyataan bermeterai.
· Bila dalam pembuatan media, peserta perlu mencuplik karya orang lain sebagai referensi/ bahan pelengkap sajian, maka peserta harus mencantumkan sumber cuplikan tersebut.

· Setiap bahan ajar yang diikutsertakan dalam lomba bila memenuhi persyaratan akan mendapatkan panggilan untuk presentasi dan menjadi hak milik LPMP Jawa Tengah.
· Karya yang dibuat sesuai dengan mapel yang diajarkan dan jenjang sekolah dibuktikan dengan surat pernyataan mengajar dari sekolah berdasarkan mapel dan jenjang mengajar.

Desain CD Interaktif
· Judul
· Tujuan Pembelajaran
· Apersepsi
· Uraian yang komunikatif
· Contoh, analogi atau ilustrasi, serta simulasi yang relevan dan kontekstual
· Latihan, tes, dan umpan balik korektif secara kreatif.

· Relevansi dan konsistensi antara latihan/tes dan materi dengan tujuan pembelajaran
· Interaktivitas
· Efektif dan efisien dalam pengembangan maupun penggunaan multimedia pembelajaran
· Mudah digunakan dan sederhana dalam pengoperasiannya.
· Ketepatan pemilihan jenis aplikasi/software/tool untuk pengembangan.

Pendaftaran

· Mengisi formulir yang sudah disiapkan di Seksi Pemetaan Mutu Pendidikan (PMP) LPMP Jawa Tengah atau melalui website: www.lpmpjateng.go.id

· Persyaratan karya disertakan dalam amplop ukuran folio, ditujukan kepada PANITIA LOMBA GURU BERPRESTASI DI BIDANG PEMBELAJARAN MANDIRI BERBANTUAN KOMPUTER UNTUK SISWA JENJANG TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK (RUANG INFORMASI TEKNOLOGI ) LPMP JAWA TENGAH.

· Formulir pendaftaran dan persyaratan lomba diantar langsung atau dikirim melalui pos ke panitia lomba paling akhir 11 Agustus 2010 (Cap Pos)
· Pendaftaran tidak dipungut biaya.

Kegiatan Lomba

175 peserta yang lolos seleksi administrasi dan persyaratan lomba akan dipanggil ke LPMP Jawa Tengah untuk mempresentasikan bahan ajarnya pada tanggal 26 s/d 27 Agustus 2010.

· Bila perlu menggunakan software khusus diperbolehkan membawa sendiri.
· Kegiatan lomba menggunakan sistem gugur atau babak penyisihan
Biaya akomodasi dan konsumsi selama di LPMP Jawa Tengah ditanggung oleh panitia.
· Ketentuan dan keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.

Peserta
· Guru JENJANG TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK dan sederajat se Jawa Tengah
· Lomba bersifat perorangan.

HADIAH LOMBA
JENJANG:

1. TK/RA/SD/MI :
Juara I : NETBOOK, PIALA, SERTIFIKAT + UANG PEMBINAAN
Juara II : NETBOOK, PIALA, SERTIFIKAT + UANG PEMBINAAN
Juara III : NETBOOK, PIALA, SERTIFIKAT + UANG PEMBINAAN

2. SMP/MTS :
Juara I : NETBOOK, PIALA, SERTIFIKAT + UANG PEMBINAAN
Juara II : NETBOOK, PIALA, SERTIFIKAT + UANG PEMBINAAN
Juara III : NETBOOK, PIALA, SERTIFIKAT + UANG PEMBINAAN

2. SMA/MA/SMK/MAK :
Juara I : NETBOOK, PIALA, SERTIFIKAT + UANG PEMBINAAN
Juara II : NETBOOK, PIALA, SERTIFIKAT + UANG PEMBINAAN
Juara III : NETBOOK, PIALA, SERTIFIKAT + UANG PEMBINAAN

Sekretariat Lomba
RUANG INFORMASI TEKNOLOGI (IT)
LPMP JAWA TENGAH

Jl. Kyai Mojo Srondol Kulon Semarang 50263
Telp. (024) 7474192 Fax. (024) 7479261

Email: lpmp-jateng@lpmpjateng.go.id This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Contact Person
1. Mulyanto : 081 225 12 002
2. Putut J. Wibowo : 085 626 677 15
3. Abi : 081 6666 776

Download
Formulir Lomba

13/07/10

Inovasi Bidang Pendidikan (1)

Berbicara mengenai inovasi (pembaharuan) mengingatkan kita pada istilah invention dan discovery. Invention adalah penemuan sesuatu yang benar-benar baru artinya hasil karya manuasia. Discovery adalah penemuan sesuatu (benda yang sebenarnya telah ada sebelumnya.

1. Pendahuluan
Tidak bisa diragukan lagi bahwasanya manusia tak akan terlepas dengan mengeksplorasi segala sumber daya yang dimilikinya. Dengan cara mencurahkan segala daya dan kemampuanya untuk selalu berinofasi menemukan sesuatu yang baru yang dapat membantu hidupnya menjadi lebih baik. Jika manusia tidak menggali segala kemampuanya maka ia akan tertinggal bahkan tergerus oleh zaman yang selalu berkembang.
Dalam dunia pendidikan Inovasi adalah hal yang mutlak dilakukan karena tanpa inovasi akan terjadi kemandekan pada dunia pendidikan yang kemudian berimbas pada pada elemen-elemen kehidupan yang lain seperti politik, ekonomi, social dan lain-lain.

2. Pengertian Inovasi Pendidikan
Berbicara mengenai inovasi (pembaharuan) mengingatkan kita pada istilah invention dan discovery. Invention adalah penemuan sesuatu yang benar-benar baru artinya hasil karya manuasia. Discovery adalah penemuan sesuatu (benda yang sebenarnya telah ada sebelumnya. Dengan demikian, inovasi dapat diartikan usaha menemukan benda yang baru dengan jalan melakukan kegiatan (usaha) invention dan discovery. Dalam kaitan ini Ibrahim (1989) mengatakan bahwa inovasi adalah penemuan yang dapat berupa sesuatu ide, barang, kejadian, metode yang diamati sebagai sesuatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat). Maka dapat ditarik kesimpulan Ibahwa Inovasi pendidikan adalah penemuan yang dapat berupa sesuatu ide, barang, kejadian, metode yang diamati sebagai sesuatu hal yang baru bagi dunia pendidkan. Contoh bidangnya adalah Managerial, Teknologi, dan Kurikulum
Inovasi yang berbentuk metode dapat berdampak pada perbaikan, meningkatkan kualitas pendidikan serta sebagai alat atau cara baru dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam kegiatan pendidikan. Dengan demikian metode baru atau cara baru dalam melaksanakan metode yang ada seperti dalam proses pembelajaran dapat menjadi suatu upaya meningkatkan efektivitas pembelajaran.
Sementara itu inovasi dalam teknologi juga perlu diperhatikan mengingat banyak hasil-hasil teknologi yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, seperti penggunaannya untuk teknologi pembelajaran, prosedur supervise serta pengelolaan informasi pendidikan yang dapat meningkatkan efisiensi pelaksanaan pendidikan.

3. Inovasi pendidikan dan model pembelajaran di Indonesia
a. Top Down Inovation
Inovasi model Top Down ini sengaja diciptakan oleh atasan (pemerintah) sebagai usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan atau pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, ataupun sebagai usaha untuk meningkatkan efisiensi dan sebaginya. Inovasi seperti ini dilakukan dan diterapkan kepada bawahan dengan cara mengajak, menganjurkan dan bahkan memaksakan apa yang menurut pencipta itu baik
untuk kepentingan bawahannya. Dan bawahan tidak punya otoritas untuk menolak
pelaksanaannya.
Contoh adalah yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasinal selama ini. Seperti
penerapan kurikulum, kebijakan desentralisasi pendidikan dan lain-lain.

b. bottom up Inovation
Yaitu model ionovasi yang bersumber dan hasil ciptaan dari bawah dan dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan penyelenggaraan dan mutu pendidikan. Biasanya dilakukan oleh para guru.
c. Desentralisasi dan Demokratisasi pendidikan.
Perjalanan pendidikan nasional yang panjang mencapai suatu masa yang demokratis kalau tidak dapat disebut liberal-ketika pada saat ini otonomisasi pendidikan melalui berbagai instrument kebijakan, mulai UU No. 2 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, privatisasi perguruan tinggi negeri-dengan status baru yaitu Badan Hukum Milik Negara (BHMN) melalui PP No. 60 tahun 2000, sampai UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah yang mengatur konsep, sistem dan pola pendidikan, pembiayaan pendidikan, juga kewenangan di sektor pendidikan yang digariskan bagi pusat maupun daerah. Dalam konteks ini pula, pendidikan berusaha dikembalikan untuk melahirkan insan-insan akademis dan intelektual yang diharapkan dapat membangun bangsa secara demokratis, bukan menghancurkan bangsa dengan budaya-budaya korupsi kolusi dan nepotisme, dimana peran pendidikan (agama, moral dan kenegaraan) yang didapat dibangku sekolah dengan tidak semestinya.
Jika kita merujuk pada undang-undang Undang-Undang No.22 Tahun 1999 tentang otonomi pemerintahan daerah maka Desentralisasi pendidikan bisa diartikan sebagai pemberian kewenangan untuk mengatur pendidikan di daerah.
Ada dua konsep
desentralisasi pendidikan.
Pertama, desentralisasi kewenangan di sektor pendidikan. Desentralisasi lebih kepada kebijakan pendidikan dan aspek pendanaannya dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Kedua, desentralisasi pendidikan dengan fokus pada pemberian kewenangan yang lebih besar di tingkat sekolah.
Konsep pertama berkaitan dengan desentralisasi penyelenggaraan pemerintahan dari pusat ke daerah sebagai bagian demokratisasi. Konsep kedua lebih fokus mengenai pemberian kewenangan yang lebih besar kepada manajemen di tingkat sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
d. KTSP
KTSP yang dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan kurikulum yang bersifat operasional dan dilaksanakan dimasing-masing tingkat satuan pendidikan. Landasan hukum kurikulum ini yaitu Undang-undang Sikdiknas No. 20 Tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan disusun oleh masing-masing sekolah dengan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI) untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. Penyerahan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada tiap sekolah dengan mengacu pada Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan bertujuan agar kurikulum tersebut dapat disesuaikan dengan karakter dan tingkat kemampuan sekolah masing-masing.
Pedoman penilaian dan penentuan kelulusan peserta didik mengacu pada SKL yang meliputi kompetensi untuk kelompok mata pelajaran atau kompetensi untuk seluruh mata pelajaran yang dinilai berdasarkan kualifikasi kemampuan mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan.
Standar isi merupakan ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam persyaratan kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi merupakan pedoman untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan.
e. Quantum learning
Quantum learning ialah kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang
dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses
yang menyenangkan dan bermanfaat. Beberapa teknik yang dikemukakan merupakan
teknik meningkatkan kemampuan diri yang sudah populer dan umum digunakan. Namun,
Bobbi DePorter mengembangkan teknik-teknik yang sasaran akhirnya ditujukan untuk
membantu para siswa menjadi responsif dan bergairah dalam menghadapi tantangan dan
perubahan realitas (yang terkait dengan sifat jurnalisme). Quantum learning berakar dari
upaya Georgi Lozanov, pendidik berkebangsaan Bulgaria. Ia melakukan eksperimen yang
disebutnya suggestology (suggestopedia). Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti
mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detil apa pun memberikan sugesti positif atau
negatif. Untuk mendapatkan sugesti positif, beberapa teknik digunakan. Para murid di
dalam kelas dibuat menjadi nyaman. Musik dipasang, partisipasi mereka didorong lebih
jauh. Poster-poster besar, yang menonjolkan informasi, ditempel. Guru-guru yang terampil
dalam seni pengajaran sugestif bermunculan.
Selanjutnya Porter dkk mendefinisikan quantum learning sebagai “interaksi-interaksi
yang mengubah energi menjadi cahaya.” Mereka mengasumsikan kekuatan energi sebagai
bagian penting dari tiap interaksi manusia. Dengan mengutip rumus klasik E = mc2,
mereka alihkan ihwal energi itu ke dalam analogi tubuh manusia yang “secara fisik adalah
materi”. “Sebagai pelajar, tujuan kita adalah meraih sebanyak mungkin cahaya: interaksi,
hubungan, inspirasi agar menghasilkan energi cahaya”. Pada kaitan inilah, quantum
learning menggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar

f. Contextual Teaching and Learning /CTL
Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan
konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan
situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan
yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga
dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi
siswa. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan
mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih
dipentingkan daripada hasil
Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya.
Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi.
Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan
sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan
sendiri bukan dari apa kata guru.Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan
pendekatan kontekstual
g. cooperative learning
Model pembelajaran Cooperative Learning merupakan salah satu model
pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Sistem pengajaran Cooperative
Learning dapat didefinisikan sebagai sistem kerja/ belajar kelompok yang terstruktur. Yang
termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok (Johnson & Johnson, 1993), yaitu
saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian
bekerja sama, dan proses kelompok.
Falsafah yang mendasari pembelajaran Cooperative Learning (pembelajaran gotong royong) dalam pendidikan adalah “homo homini socius” yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial.
Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang
menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara
sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang
atau lebih.
Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan
faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah
siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam
menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja
sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran
kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum
menguasai bahan pelajaran.
f. Active learning
Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan
penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat
mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka
miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (active learning) juga dimaksudkan untuk
menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.
g. PAKEMadalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan.
Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana
sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan
gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam
membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah
guru tentang pengetahuan. Sehingga, jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan
kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan
hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi
yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain.
Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga
memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana belajar-
mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada
belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya
waktu curah terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah
cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus
dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki
sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan
menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti
bermain biasa.

12/07/10

Potensi TIK dalam Peningkatan Mutu Pendidikan

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan TIK ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu:

(1) dari pelatihan ke penampilan,
(2) dari ruang kelas ke di mana dankapan saja,
(3) dari kertas ke “on line” atau saluran,
(4) fasilitasfisik ke fasilitas jaringan kerja,
(5) dari waktu siklus ke waktunyata.
Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dsb. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut.
Guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet. Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber teaching” atau pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet. Istilah lain yang makin poluper saat ini ialah e-learning yaitu satu model pembelajaran dengan menggunakan media teknologi komunikasi dan informasi khususnya internet.
Menurut Rosenberg (2001; 28), e-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu:
(1) e-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi,
(2) pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar,
(3) memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma pembelajaran tradisional.
Saat ini e-learning telah berkembang dalam berbagai model pembelajaran yang berbasis TIK seperti: CBT (Computer Based Training), CBI (Computer Based Instruction), Distance Learning, Distance Education, CLE (Cybernetic Learning Environment), Desktop Videoconferencing, ILS (Integrated Learning Syatem), LCC (Learner-Cemterted Classroom), Teleconferencing, WBT (Web-Based Training), dsb.
Oleh: Prof. Dr. H. Mohamad Surya

08/07/10

Apa yang Membuat Kita Tertinggal dalam Pendidikan?

Netsains.Com – Belajar bukanlah hanya sekedar membaca, menghafal dan mengikuti tes dalam suatu ujian tertentu untuk membuktikan bahwa anak didik sudah menguasai materi pendidikan. Apalagi materi pendidikan tersebut adalah bidang ilmu fisika.

Pertanyaannya adalah apakah ilmu fisika itu? Bagaimana suatu definisi dalam ilmu fisika dibuat? Apakah definisi berawal dari mencoba-coba ataukah dari melihat proses dan akibat yang dihasilkan dari alam?

Berawal dari memperhatikan suatu kejadian alam maka para pemikir (filosof) terkemuka seperti Galileo mengemukakan pertanyaan “mengapa sesuatu itu terjadi?” dan bersamaan dengan itu timbullah hipotesa (dugaan).

Hipotesa harus dijawab dengan pembuktian yang benar sehingga lahirlah definisi yang sering kita temukan dalam bidang ilmu fisika. Pembuktian tersebut dapat dilakukan dengan melakukan eksperimen dan percobaan-percobaan.

Apakah pendidikan di Indonesia ini telah melakukan proses belajar dan mengajar yang benar. Apakah para anak didik mengerti akan sejarah para pemikir (filosof) tersebut? Apakah para anak didik sudah melakukan eksperimen untuk membuktikan definisi yang sudah baku?

Sudah benar kurikulum yang dibuat oleh pemerintah untuk pendidikan tingkat dasar, menengah dan atas yang mengandung muatan : konsep, proses dan akibat. Konsep yang terdiri dari definisi yang sudah baku. Proses yang didukung oleh pengukuran dan akibat yang dihasilkan oleh definisi tersebut.

Tetapi pertanyaannya adalah: mengapa pendidikan di Indonesia masih dianggap ketinggalan dibandingkan dengan negara tetangga kita? Apakah yang membuat kita tertinggal dalam hal pendidikan?

Jika kita jujur dalam bersikap maka tidak perlu kita membahas pendidikan yang sudah diterapkan oleh pemerintah tetapi dampak yang terjadi pada masyarakat sekarang ini yang lebih konsumtif dengan produk-produk baru.

Teknologi yang diterapkan dalam produk baru tersebut sebenarnya tidak lepas dari konsep-konsep dasar dalam semua bidang ilmu pengetahuan. Variasi, kombinasi dan inovasi konsep dasar tersebutlah yang akan melahirkan teknologi suatu produk yang berkembang sangat pesat saat ini seperti Handphone, Computer, Controler dan lain-lain.

Untuk itu sangatlah perlu diterapkan sistem belajar dan mengajar yang lebih mengacu pada definisi yang tidak perlu dihafal melainkan dimengerti melalui percobaan-percobaan. Karena definisi atau konsep bukanlah untuk dihafalkan tapi diuji kebenarannya melalui akibat yang dihasilkan oleh definisi tersebut.

Itulah sebenarnya tugas pendidikan untuk anak didik kita dan harus ditanggapi oleh pemerintah dengan serius.

Kendala yang dapat dirasakan untuk sementara ini adalah alat pendukung dalam sistem belajar mengajar seperti alat peraga pendidikan. Sementara didalam disiplin ilmu fisika dituntut banyak sekali percobaan dan eksperimen untuk pembuktian suatu konsep atau rumusan tertentu.

Yang paling susah untuk melakukan eksperimen dalam ilmu fisika adalah dibidang listrik, elektromagnet dan elektronika. Karena definisi-definisi hanya dapat dilihat dan dirasakan dari akibat yang dihasilkan.

Sementara produk baru yang berkembang sangat pesat saat ini banyak berbasiskan listik, magnet dan elektronika. Hampir seluruh peralatan yang beredar didunia ini tidak terlepas dari tekhnologi tersebut.

Mencermati hal tersebut maka sangat penting untuk secepatnya menyikapi kebutuhan akan hal itu. Untuk mengimbangi kemajuan teknologi listrik, magnet dan elektronika maka harus dimulai dari dunia pendidikan formal, yaitu sekolah tingkat dasar, menengah dan atas.

Sekolah-sekolah sangat diharapkan memberi motifasi kepada anak didiknya supaya kelak apabila harus bekerja akan sangat mudah mendapatkan pekerjaan atau bahkan lebih baik lagi bisa membuka usaha sendiri sebagai pengusaha mandiri.

Alat pendukung adalah alat peraga dengan menggunakan sistem listrik, magnet dan elektronika. Alat peraga haruslah sangat mudah, fleksible dan praktis untuk digunakan serta menyenangkan, merangsang rasa ingin tahu dan mencoba.

Penjabaran analisa kelistrikan dan kemagnetan lebih cepat dan detail sehingga memberikan pengetahuan yang lebih mendalam, cara kerja dan aplikasi tentang kelistrikan dan kemagnetan.

Alat peraga juga harus disesuaikan untuk memenuhi keperluan kurikulum bagi siswa/siswi pada tingkat dasar, menengah dan atas, sehingga murid-murid akan lebih mengenal, baik dalam bentuk konsep, proses maupun akibat.

Semua harus dapat dipraktekkan dengan sangat mudah dan menarik dengan dukungan bermacam-macam percobaan, pertanyaan dan kreatifitas lainnya.
foto:detiknews.com

Beda Antara Belajar dan Menekuni

Netsains.Com – Belajar bukanlah hanya sekedar membaca, menghafal dan mengikuti tes dalam suatu ujian tertentu untuk membuktikan bahwa anak didik sudah menguasai materi pendidikan. Apalagi materi pendidikan tersebut adalah bidang ilmu fisika.

Pertanyaannya adalah apakah ilmu fisika itu? Bagaimana suatu definisi dalam ilmu fisika dibuat? Apakah definisi berawal dari mencoba-coba ataukah dari melihat proses dan akibat yang dihasilkan dari alam?

Berawal dari memperhatikan suatu kejadian alam maka para pemikir (filosof) terkemuka seperti Galileo mengemukakan pertanyaan “mengapa sesuatu itu terjadi?” dan bersamaan dengan itu timbullah hipotesa (dugaan).

Hipotesa harus dijawab dengan pembuktian yang benar sehingga lahirlah definisi yang sering kita temukan dalam bidang ilmu fisika. Pembuktian tersebut dapat dilakukan dengan melakukan eksperimen dan percobaan-percobaan.

Apakah pendidikan di Indonesia ini telah melakukan proses belajar dan mengajar yang benar. Apakah para anak didik mengerti akan sejarah para pemikir (filosof) tersebut? Apakah para anak didik sudah melakukan eksperimen untuk membuktikan definisi yang sudah baku?

Sudah benar kurikulum yang dibuat oleh pemerintah untuk pendidikan tingkat dasar, menengah dan atas yang mengandung muatan : konsep, proses dan akibat. Konsep yang terdiri dari definisi yang sudah baku. Proses yang didukung oleh pengukuran dan akibat yang dihasilkan oleh definisi tersebut.

Tetapi pertanyaannya adalah: mengapa pendidikan di Indonesia masih dianggap ketinggalan dibandingkan dengan negara tetangga kita? Apakah yang membuat kita tertinggal dalam hal pendidikan?

Jika kita jujur dalam bersikap maka tidak perlu kita membahas pendidikan yang sudah diterapkan oleh pemerintah tetapi dampak yang terjadi pada masyarakat sekarang ini yang lebih konsumtif dengan produk-produk baru.

Teknologi yang diterapkan dalam produk baru tersebut sebenarnya tidak lepas dari konsep-konsep dasar dalam semua bidang ilmu pengetahuan. Variasi, kombinasi dan inovasi konsep dasar tersebutlah yang akan melahirkan teknologi suatu produk yang berkembang sangat pesat saat ini seperti Handphone, Computer, Controler dan lain-lain.

Untuk itu sangatlah perlu diterapkan sistem belajar dan mengajar yang lebih mengacu pada definisi yang tidak perlu dihafal melainkan dimengerti melalui percobaan-percobaan. Karena definisi atau konsep bukanlah untuk dihafalkan tapi diuji kebenarannya melalui akibat yang dihasilkan oleh definisi tersebut.

Itulah sebenarnya tugas pendidikan untuk anak didik kita dan harus ditanggapi oleh pemerintah dengan serius.

Kendala yang dapat dirasakan untuk sementara ini adalah alat pendukung dalam sistem belajar mengajar seperti alat peraga pendidikan. Sementara didalam disiplin ilmu fisika dituntut banyak sekali percobaan dan eksperimen untuk pembuktian suatu konsep atau rumusan tertentu.

Yang paling susah untuk melakukan eksperimen dalam ilmu fisika adalah dibidang listrik, elektromagnet dan elektronika. Karena definisi-definisi hanya dapat dilihat dan dirasakan dari akibat yang dihasilkan.

Sementara produk baru yang berkembang sangat pesat saat ini banyak berbasiskan listik, magnet dan elektronika. Hampir seluruh peralatan yang beredar didunia ini tidak terlepas dari tekhnologi tersebut.

Mencermati hal tersebut maka sangat penting untuk secepatnya menyikapi kebutuhan akan hal itu. Untuk mengimbangi kemajuan teknologi listrik, magnet dan elektronika maka harus dimulai dari dunia pendidikan formal, yaitu sekolah tingkat dasar, menengah dan atas.

Sekolah-sekolah sangat diharapkan memberi motifasi kepada anak didiknya supaya kelak apabila harus bekerja akan sangat mudah mendapatkan pekerjaan atau bahkan lebih baik lagi bisa membuka usaha sendiri sebagai pengusaha mandiri.

Alat pendukung adalah alat peraga dengan menggunakan sistem listrik, magnet dan elektronika. Alat peraga haruslah sangat mudah, fleksible dan praktis untuk digunakan serta menyenangkan, merangsang rasa ingin tahu dan mencoba.

Penjabaran analisa kelistrikan dan kemagnetan lebih cepat dan detail sehingga memberikan pengetahuan yang lebih mendalam, cara kerja dan aplikasi tentang kelistrikan dan kemagnetan.

Alat peraga juga harus disesuaikan untuk memenuhi keperluan kurikulum bagi siswa/siswi pada tingkat dasar, menengah dan atas, sehingga murid-murid akan lebih mengenal, baik dalam bentuk konsep, proses maupun akibat.

Semua harus dapat dipraktekkan dengan sangat mudah dan menarik dengan dukungan bermacam-macam percobaan, pertanyaan dan kreatifitas lainnya.
foto:detiknews.com