Assalaamu'Alaikum Wr. Wb.

Selamat datang Di MTs. Negeri Slawi Kabupaten Tegal, Menyiapkan generasi muda beriman, berilmu, beramal dan berakhlak.

Ustadz Pilihan

Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dan mumpuni, siap meluangkan waktu untuk membantu siswa-siswinya.

Praktek Mengurus Jenazah

Siswa-siswi dilatih untuk mengurus jenazah, dari memandikan, mengkafani, menyolati dan mengubur jenajah.

Latihan Manasik Haji

Pemahaman keagamaan dilakukan melalui teori dan kegiatan praktikum.

Kegiatan Ekstrakurikuler

Berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler dan keagamaan, untuk menjaga ketahanan phisik dan mental siswa.

Drum Band MTsN Slawi

Drum Band MTs. Negeri Slawi selalu berkiprah dalam setiap perayaan HUT Kemerdekaan RI dan even-even lain.

Pramuka MTsN Slawi

Pramuka MTs. Negeri Slawi membekali para siswa keterampilan sosial dan jiwa patriotisme.

Prestasi Siswa

Memberi kesempatan siswa untuk berprestasi sesuai dengan bakat dan keterampilan yang dimiliki.

Bording School

Program baru, Bording School akan dibuka pada Tahun Pelajaran 2016/2017.

22/02/12

Tips Menghadapi Akreditasi Sekolah

Setelah mengikuti Diklat Akreditasi 2009 yang cukup membingungkan, hampir tanpa hasil dan terkesan sangat njlimet (ma'af kepada penyelenggara diklat), maka mari kita mencoba menyederhanakan semuanya menjadi lebih simpel tanpa mengurangi makna dan tujuan akreditasi baik dari sisi perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi. Akreditasi yang dilakukan oleh BAN (Badan Akreditasi Nasional) merupakan suatu evaluasi secara keseluruhan dari suatu lembaga pendidikan dalam pelaksanaan dan pelayanan pendidikan kepada masyarakat. BAN akan memotret secara lebih mendetail terhadap suatu lembaga pendidikan dan hal ini yang membuat sekolah merasa perlu juga untuk memberikan suatu pemandangan indah terhadap hasil akhir photografi BAN. Tetapi bukan berarti mengadakan sesuatu yang tidak ada, biarlah pemandangan itu apa adanya sehingga naturalisme sekolah tampak dan terintegrasi dalam keseharian. BAN akan mencoba memotret sekolah dari sisi fisik (baca; bukti fisik penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan), hal ini jelas menggambarkan secara keseluruhan bagaimana lembaga pendidikan tersebut melaksanakan penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan selama 5 tahun terakhir.

Walaupun ada beberapa kelemahan dan terkesan memaksakan keadaan dilapangan dalam pelaksanaan akreditasi yang dilakukan oleh BAN tetapi bukan berarti sekolah harus meng-eksplore hal tersebut. Menjadikan instrumen akreditasi dari BAN sebagai suatu pola penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang ideal itu lebih penting daripada kita harus mengeksploitasi kesalahan yang dilakukan oleh BAN sebagai lembaga yang menyelenggarakan akreditasi.
Sekolah sebagai ujung tombak pelaksanaan dan pelayanan pendidikan kepada masyarakat haruslah bertindak ideal sesuai dengan visi dan misi sekolah itu sendiri, tindakan ideal ini membuat sekolah akan merasa siap dengan apapun yang akan dilakukan oleh pemerintah, baik berupa akreditasi, evaluasi atau apapun namanya. Hasil akhir dari akreditasi merupakan gambaran secara umum potret sekolah dilihat dari sisi pemerintah maupun dari sisi masyarakat.
Dengan hal diatas maka pihak lembaga pendidikan sangatlah perlu untuk mempersiapkan segala sesuatunya dalam menghadapi akreditasi karena sangat tidak mungkin hanya dalam waktu 2-3 hari BAN akan memotret sekolah secara menyeluruh jika pihak sekolah tidak mampu bekerja sama dengan BAN.

Berikut beberapa tips dalam menghadapi akreditasi :

1. Recording Process (Proses Perekaman)
Dalam proses ini, sekolah dengan hati-hati merekam seluruh instrumen akreditasi kepada para penyelenggara pendidikan disekolah tersebut mulai dari guru, tata usaha, dunia usaha dunia industri (DUDI) dan pihak lain yang terkait terhadap penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan di sekolah tersebut. Proses ini bisa dalam berbagai bentuk, bisa berupa IHT (In House Training), rapat terbuka atau kegiatan lain yang lebih fleksibel dan mampu memberikan kesempatan para penyelenggara pendidikan memahami secara utuh. Proses ini memang memakan waktu yang cukup lumayan tergantung keseharian penyelenggaraan pendidikan disekolah tersebut, jika idealisme penyelenggaraan pendidikan sudah merupakan kebiasaan maka proses ini sangat cepat untuk dilaksanakan. Tetapi jika sekolah tersebut kurang atau bahkan tidak melaksanakan idealisme penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan, hal ini akan menjadi hal yang sangat sulit.

2. Mixing Process (Proses Penataan)
Inilah proses yang gampang-gampang rumit, sulit dan menguras resource (baca; pikiran, tenaga dan finansial). Proses mixing adalah proses penataan ulang agar dihasilkan suatu penyelenggaraan pendidikan yang ideal, balance (berimbang) dan mengenai sasaran pelayanan pendidikan kepada masyarakat sesuai dengan instrumen-instrumen akreditasi. Inovasi-inovasi berperan disini, baik inovasi yang dilakukan oleh perorangan maupun inovasi yang dilakukan oleh sekolah secara menyeluruh dalam penataan ulang instrumen akreditasi. Jika hal ini berjalan, maka secara otomatis pula hal-hal yang diperlukan pada saat akreditasi akan terpenuhi tanpa perlu waktu lama. Hal ini tidak hanya harus dilaksanakan oleh sekolah semata tetapi harus bahkan wajib dilaksanakan oleh seluruh komponen penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan sebagai suatu sistem yang ideal.
Pemahaman ulang mengenai struktur organigram, job description (pembagian tugas), tugas dan tanggung jawab, standar pelayanan minimal, administrasi dan lain-lain mutlak harus dilaksanakan. Hal ini untuk lebih menegaskan dan mengurangi kesalahan (human error) pelaksanaan, pelayanan, dan pertanggungjawaban dalam akreditasi. Bukan hal yang aneh (bahkan hampir biasa) ketika seorang penyelenggara pendidikan tidak mampu menunjukan apa dan bagaimana mereka melaksanakan pendidikan disekolahnya.
Dalam proses ini pula sekolah perlu menata ulang instrumen akreditasi menjadi instrumen yang sederhana menurut versi sekolah masing-masing agar mudah dicerna atau mudah diimplementasikan, tetapi bukan berarti menghilangkan instrumen yang sudah dipersiapkan oleh BAN. Instrumen yang disiapkan oleh BAN adalah instumen umum dan ideal yang sangat jelas terdapat 2,3 atau lebih instrumen berbeda yang bisa saja di tunjukan dengan satu bukti.

3. Mastering Process (Proses Pengkajian)
Setelah melewati dua proses diatas, seharusnya segala hal yang berhubungan dengan instrumen akreditasi sudah tersedia atau bahkan lebih baik dari 185 instrumen yang ada. Tetapi akan menjadi tidak indah seandainya kita tidak menata ulang apa-apa yang diperlukan untuk memenuhi instrumen akreditasi tersebut. BAN akan memotret keadaan sekolah, maka kita harus menata secara keseluruhan intrumen yang ada menjadi suatu pemandangan yang indah untuk dipotret. Hal ini bisa berupa dengan menitik beratkan kebutuhan yang 185 instrumen akreditasi, atau dengan menyediakan hal-hal yang terlupakan untuk disiapkan. Sekolah bisa memberikan tanda-tanda khusus yang terkait dengan instrumen akreditasi.

Mudah-mudahan artikel ini bisa membantu sekolah-sekolah yang baru pertama kali menghadapi akreditasi atau bahkan bagi sekolah yang sudah berkali-kali kedatangan tim akreditasi. Mengenai bagaimana proses diatas dilaksanakan disekolah, akan dibahas lebih detail dalam artikel terpisah. Jadikan akreditasi sebagai suatu kegiatan yang menyenangkan dan menantang. Kritik dan saran yang membangun sangat bermanfaat bagi penulis.

Sumber: http://www.hendriono.web.id/2009/06/tips-menghadapi-akreditasi-sekolah.html

13/02/12

Guru Bersertifikasi, Harus Melaksanakan PKB

Guru sebagai tenaga profesional mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat penting dalam mencapai visi pendidikan yaitu menciptakan insan Indonesia cerdas dan kompetitif. Oleh karena itu, profesi guru harus dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.


Konsekuensi dari jabatan guru sebagai tenaga profesi, setiap guru harus melaksanakan pengembangan diri terhadap profesinya sebagai guru untuk mewujudkan terbentuknya guru yang profesional.
Pemerintah melalui Permennegpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 menyebutkan bahwa setiap guru harus melaksanakan kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB), yaitu: pengembangan kompetensi guru yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, bertahap, dan berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitasnya. Kegiatan PKB ini terdiri atas: pengembangan diri (mengikuti diklat fungsional dan melaksanakan kegiatan kolektif guru), publikasi ilmiah (membuat publikasi ilmiah atas hasil penelitian dan membuat publikasi buku) dan karya inovatif (menemukan teknologi tetap guna, menemukan/menciptakan karya seni, membuat/memodifikasi alat pelajaran dan mengikuti pengembangan penyusunan standar, pedoman, soal dan sejenisnya). Kegiatan PKB ini juga merupakan salah satu komponen pada unsur utama yang kegiatannya diberikan angka kredit untuk kenaikan pangkat dan jabatan guru.
Berdasarkan pada Permendiknas No. 35 Tahun 2010, tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Guru dan Angka Kreditnya, pada Pasal 2 ayat 1 disebutkan bahwa : guru yang tidak dapat memenuhi kinerja yang dipersyaratkan untuk kenaikan pangkat dan jabatan, padahal yang bersangkutan telah diikutsertakan dalam pembinaan pengembangan keprofesian, beban kerjanya dikurangi sehingga menjadi kurang dari 24 (dua puluh empat) jam tatap muka atau dianggap melaksanakan beban kerja kurang dari 24 (dua puluh empat) jam tatap muka. Jika hal ini terjadi pada guru, maka jabatan fungsional yang melekat serta tunjangan sertifikasi yang telah dimiliki guru tersebut, terancam untuk diberhentikan.




26/01/12

Lima Tipe Pemikiran Kependidikan


Masing-masing dari kita memiliki gagasan sendiri tentang pendidikan. Beberapa gagasan mungkin konservatif dan lain-lain mungkin seimbang atau lebih open-minded. Selain itu, beberapa dari mereka mungkin sangat tradisional atau super radikal. Di sini, kami tidak menilai jalan pikiran anda apakah baik atau kurang baik, tetapi kami ingin anda mengenali sendiri posisi dan cara pemikiran tentang pendidikan. Untuk itu, berbagai pendekatan pendidikan yang diperkenalkan oleh pemerintah dan donor internasional dapat diperhatikan seberapa mengenai pendekatan tersebut dari posisi anda sendiri.

SANGAT KONSERVATIF!!
Jika anda termasuk tipe guru sangat konservatif tentang praktik pendidikan. Pemikiran pendidikan ini dinamakan Perenialisme, sebuah pemikiran yang paling tua dan yang paling konservatif, tetapi bahkan hingga sekarang di dunia ini banyak sekolah pempertahankannya dalam melakukan kegiatan pendidikan. Jenis orang seperti ini berpikir bahwa pendidikan bertujuan untuk mendorong intelektualitas sumber daya manusia melalui pengajaran pengetahuan yang baku dan nilai-nilai sosial yang dibangun di masa lalu oleh para profesional dan guru yang berwawasan dalam rangka menciptakan masyarakat yang lebih baik dan bangsa intelek. Siswa harus mendapatkan pengetahuan penting seperti itu dan nilai-nilai sebanyak mungkin untuk menjadi pintar dan orang berguna untuk masyarakat. Selama mengajar, minat dan motivasi siswa mendapat sedikit perhatian. Sebaliknya, berapa banyak ilmu yang ditransfer kepada siswa secara efektif adalah lebih penting. Oleh karena itu, jenis guru ini cenderung untuk menanamkan berbagai pengetahuan dan nilai-nilai siswa tanpa alasan jelas dan penjelasan memadai. Dalam suasana mengajar seperti ini, siswa harus hafal apa yang dikatakan guru tanpa memahami arti yang sebenarnya. Tentu saja, jenis pembelajaran ini membuat siswa sangat stres. Tetapi siswa harus bersabar dan taat kepada guru karena guru adalah mutlak dan otoritas yang kuat atas siswa.

Berkaitan dengan upaya Indonesia saat ini untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar, jenis ini adalah sedikit tertinggal. Jadi, sangat penting bagi anda untuk membuka mata lagi dan melihat pemikiran pendidikan lainnya saat anda mencoba untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia sejalan dengan kebijakan pendidikan.

SEDIKIT KONSERVATIF SEPERTI KEBANYAKAN PENDIDIK DI INDONESIA
Jika anda tipe sedikit konservatif, namun kadarnya tidak sekuat Tipe 1. Anda menganggap pendidikan sebagai alat untuk penciptaan masyarakat yang intelek dan bermartabat. Dalam pemikiran anda, pendidikan adalah untuk mentransfer pengetahuan dan nilai-nilai yang didirikan di masa lalu dari guru kepada siswa. Namun, kadang-kadang ide anda berubah dan disesuaikan dengan situasi yang diberikan. Banyak pendidik Indonesia, guru, dan pembuat kebijakan pendidikan termasuk pada Tipe 2 ini. Seperti halnya dengan Tipe 1, anda mencoba untuk membuat sebuah usaha untuk membuka mata anda untuk melihat ide lainnya ketika anda bekerja untuk meningkatkan pendidikan.

FLEKSIBEL ATAU TIDAK STABIL?
Anda tidak memiliki kecenderungan tertentu dalam pendidikan. Ini mungkin berarti bahwa Anda sangat fleksibel dalam melakukan kegiatan pendidikan. Di sisi lain, dapat dikatakan bahwa Anda melakukan kegiatan pendidikan tanpa filosofi dan kepercayaan tertentu. Jika anda termasuk di tipe sebelumnya, mungkin lebih baik karena anda dapat menerima berbagai jenis ide dan menyesuaikan diri sendiri dengan situasi yang dihadapi. Namun, jika anda termasuk tipe yang ini, hal ini kurang mendukung bagi anda sebagai seorang guru karena posisi anda dalam pendidikan sangat tidak stabil dan anda tidak menyadari mengapa melaksanakan pendidikan sehari-hari.

CENDERUNG LIBERAL
Anda cenderung liberal dan berbeda dari Tipe 1 dan 2. Anda berpikir bahwa pendidikan tidak hanya mentransfer pengetahuan yang dibangun di masa lalu dari guru kepada siswa. Selain itu, anda juga menyadari bahwa memberikan perhatian kepada minat dan perasaan siswa adalah penting saat melakukan pendidikan. Posisi ini sejalan dengan strategi pendidikan dan gerakan Indonesia saat ini. Jadi, anda dapat memahami strategi dan gerakan kependidikan tersebut dengan mudah dan mengadopsi ke praktik pendidikan. Namun, untuk melakukannya, anda harus lebih berupaya dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan lebih lanjut tentang cara untuk melakukan pembelajaran dengan kualitas yang baik.

SANGAT LIBERAL!!
Anda sangat liberal mengenai pemikiran pendidikan. Tipe ini adalah orang-orang yang disebut "Progressivist." Progressivist sepenuhnya berlawanan dari Perenialist (Tipe 1). Pemikiran pendidikan ini pertama kali muncul di Amerika di tahun 1920an, yang mengkritisi pengajaran berbasis indoktrinasi-pengetahuan dan belajar dengan penghapalan yang dominan dalam lingkungan konservatif dan pendidikan tradisional. Anda berpikir bahwa pendidikan yang bertujuan menghapal pengetahuan penting di masa lalu dan nilai-nilai sosial dianggap sia-sia karena pengetahuan selalu berubah di masyarakat sesuai keadaan masyarakat saat ini. Yang lebih penting dan lebih praktis diperlukan adalah pengetahuan dan keterampilan untuk hidup lebih baik dalam masyarakat. Secara khusus, ini adalah kemampuan pemecahan masalah, kemampuan penelitian ilmiah, kerjasama dan sikap disiplin diri. Berbeda dengan Tipe 1, anda berpikir bahwa memberikan perhatian kepada minat dan perasaan siswa merupakan aspek penting untuk melaksanakan pendidikan dengan kualitas tinggi. Selain itu, anda berpikir bahwa penekanan pada pengalaman nyata melalui fisik (atau kadang-kadang mental) adalah kegiatan kunci dalam rangka mengakumulasi pengetahuan bagi siswa. Gerakan kependidikan Indonesia saat ini agak dekat pemikiran pendidikan seperti ini.Oleh karena itu, anda dapat menerima dan memahami kebijakan yang baru dan strategi dengan mudah. Namun, ide ini sangat berbeda dengan praktik pendidikan di Indonesia pada masa lalu yang anda alami saat anda masih seorang siswa. Jadi, anda harus mencoba untuk melaksanakan pendidikan bermutu berdasarkan pemikiran pendidikan yang liberal ini.

15/10/11

Mengenal Pembelajaran Quantum

Quantum Learning (Pembelajaran Kuantum) adalah model pembelajaran yang meng--orkestrasi--kan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan sekitar momen belajar. Semua unsur yang dapat menopang kesuksesan siswa dalam belajar harus di ramu menjadi sebuah akumulasi yang benar-benar menerapkan suasana belajar. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Interaksi-interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. (Bobbi De Porter dan Mark Reardon, 2005 : 6). Berbagai kecerdasan majemuk baik kecerdasan linguistik, matematis, logis, spasial, kinetis, jasmani, musikal, interpesonal dan naturalis harus bersinergi dalam meggerakkan belajar siswa.

Karakteristik Pembelajaran Quantum
1) Berpangkal pada psikologi kognitif.
2) Bersifat humanintis manusia selalu pembelajaran menjadi pusat perhatiannya, potensi diri, kemampuan pikiran, daya motivasi diyakini dapat berkembang secara maksimal atau optimal.
3) Bersifat konstruktivitas, pembelajaran Kuantum bersifat menekankan pentingnya peranan lingkungan dalam mewujudkan pembelajaran yang efektif dan optimal yang memudahkan dalam mencapai keberhasila ujuan pembelajaran. Pembelajaran Kuantum berupaya memadukan, menyinergikan dan mengolaborasikan faktor potensi diri siswa dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks pembelajaran.
4) Memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna bukan sekedar transaksi makna. Pembelajaran Kuantum memberikan tekanan pada pentingnya interaksi, frekuensi dan akumulasi interaksi yang bermutu dan bermakna yang dapat mengubah energi kemampuan pikiran dan bakat ilmiah siswa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi keberhasilan pembelajaran.
5) Menekankan ke alamiahan dan kewajaran proses pembelajaran, sehingga menimbulkan suasana nyaman, segar sehat, rileks, santai, menyenangkan.
6) Memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran meliputi suasana yang memberdayakan, landasan, landasan yang kukuh, lingkungan yang mengarahkan dan rancangan belajar dinamis. Isi pembelajaran meliputi suasana yang memberdaya dan rancangan pemfasilitasan yang lentur, keterampilan belajar untuk belajar, dan keterampilan hidup.
7) Memusatkan perhatian pada pembentukan keterampilan akademis, keterampilan dalam hidup dan prestasi fikal atau material. Ketiganya harus diperhatikan, diperlukan dan dikelola secara seimbang.
8) Menginteraksi totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran. Aktivitas total antara tubuh dan pikiran membuat pembelajaran biasa langsung lebih nyaman dan hasilnya lebih optimal.

Prinsip Pembelajaran Quantum

1) Prinsip utama
Bawalah dunia mereka (pembelajar) ke dalam dunia kita (pengajar) dan dunia kita (pengajar) ke dalam dunia mereka (pembelajar).

2) Prinsip dasar
a) Ketahuilah bahwa segalanya berbicara. Dalam pembelajaran Kuantum segala sesuatu mulai lingkungan pembelajaran sampai mulai bahasa tubuh pengajar, pinata ruang sampai sikap guru semuanya mengirim pesan tentang pembelajaran.
b) Ketahuilah bahwa segalanya bertujuan. Semua yang terjadi dalam proses pembelajaran mempunyai tujuan.
c) Sadarilah bahwa pengalaman mendahului penamaan. Proses pembelajaran paling baik terjadi ketika pembelajar telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh makna untuk apa yang mereka pelajari. Dikatakan demikian karena otak manusia yang selanya akan menggerakkan rasa ingin tahu.
d) Akuilah setiap usaha yang dilakukan dalam pembelajaran. Pada waktu siswa melakukan langkah pembelajaran, mereka patut memperoleh pangkuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka, bahkan sekalipun siswa melakukan kesalahan perlu diberi pengakuan atas usaha yang mereka lakukan.
e) Sadarilah bahwa sesuatu yang layak dipelajari layak pula dirayakan keberhasilannya. (Bobbi De Porter dan Henarchi, 2003 : 7 - 8.
Pembelajaran Kuantum mengingatkan guru pada pentingnya memasuki dunia murid. Guru harus membangun jembatan autentik memasuki kehidupan murid. Belajar dari definisinya adalah kegiatan full-contact. Dengan kata lain, belajar melibatkan semua aspek kepribadian manusia di antaranya pikiran, perasaan, dan bahasa tubuh di samping pengetahuan, sikap, keyakinan sebelumnya serta persepsi masa mendatang. Dengan demikian, karena belajar berurusan dengan orang secara keseluruhan, hak untuk memudahkan belajar tersebut harus diberikan oleh pelajar atau diraih oleh guru. Hal ini akan memudahkan guru membangun jalinan, menyelesaikan bahan pelajaran lebih cepat, membuat hasil belajar lebih melekat, menjadi dan memastikan terjadinya pengalihan pengetahuan.

Lingkungan kelas mempengaruhi kemampuan siswa untuk berfokus dan menyerap informasi. Peningkatan seperti poster ikon akan menampilkan isi pelajaran secara visual, sementara poster afirmasi menguatkan dialog internal siswa. Alat bantu pelajar dapat menghidupkan gagasan abstrak dan mengikutsertakan pelajar kinestetik. Pengaturan bangku mendukung hasil belajar. Geser bangku atau meja agar siswa dapat berfokus pada tugas yang dihadapi. Musik membuka kunci keadaan belajar optimal dan membantu menciptakan asosiasi. Barok adalah musik paling cocok untuk belajar, mengulang, dan saat berkonsentrasi. Gaya lain dapat digunakan pada saat jeda, membuat jurnal, kerja kelompok, dan transisi. Pengorkestrasian unsur-unsur dalam lingkungan Anda sangat berpengaruh pada kemampuan Anda untuk mengajar lebih banyak dengan usaha lebih sedikit. Dalam pembelajaran Kuantum dikenal dengan pendekatan TANDUR, yakni:
T : Tumbuhkan Tumbuhkan minat dengan memuaskan “Apakah manfaatnya bagiku” (AMBAK) dan manfaatkan kehidupan siswa.
A : Alami Ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua siswa.
N : Namai Sediakan kata kunci, konsep, modal, rumus strategi sebagai sebuah masukan.
D : Demonstrasikan Sediakan kesempatan bagi pelajar untuk menunjukkan bahwa mereka tahu.
U : Ulangi Tunjukkan kepada siswa cara-cara mengulang materi dan menegaskan “Aku tahu bahwa aku memang tahu”.
R : Rayakan Bentuk reward yang harus senantiasa diberikan setiap siswa berhasil dalam pembelajaran (Bobbi De Porter dan Mark Reardon, 2005: 10)


03/10/11

Sekilas Lesson Study

Lesson Study merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh sekelompok guru. Tujuan utama Lesson Study yaitu untuk : (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.

Lesson Study (LS) pada awalnya dimulai dengan pengkajian materi kurikulum (kyouzai kenkyuu) yang berfokus pada pengajaran matematika bagi guru-guru di Jepang. Kajian tersebut mendasarkan diri pada kurikulum matematika di U.S yang dirancang
berbasis temuan-temuan penelitian unggul. Kajian tersebut melahirkan suatu perubahan
paradigma tentang materi kurikulum dari ”memanjakan” menuju pada ”pemberdayaan”
potensi siswa. Paradigma ”memanjakan” mengalami anomali, karena materi kurikulum
sering tidak memperhatikan karakteristik siswa, sehingga substansi materi sering lepas
konteks dan tidak relevan dengan kebutuhan siswa. Akibatnya, siswa kurang tertarik,
pembelajaran menjadi tidak bermakna, siswa sering menyembunyikan ketidakmampuan.
Hal ini terjadi sebagai akibat koreksi dan perhatian guru yang lemah terhadap potensi
mereka. Sementara, paradigma ”pemberdayaan” bertolak dari potensi siswa yang
mampu ”mengada”, sehingga materi kurikulum seyogyanya dikembangkan berbasis
kebutuhan siswa, materi seyogyanya menyediakan model pedagogi yang mampu
menampilkan aspek kemenarikan pembelajaran. Paradigma tersebut dapat berkembang
jika pembelajaran dihasilkan dari kerja tim mulai dari perencanaan, pelaksanaan,
diskusi, kolaborasi, dan refleksi secara berkesinambungan. Cara seperti ini melahirkan
konsep Lesson Study (LS).
LS merupakan terjemahan dari bahasa Jepang jugyou (instruction =pengajaran, atau lesson = pembelajaran) dan kenkyuu (research = penelitian atau study = kajian). Lesson study, yang dalam bahasa Jepangnya jugyou kenkyuu, adalah sebuah pendekatan untuk melakukan perbaikan-perbaikan pembelajaran di Jepang. Perbaikan-perbaikan pembelajaran tersebut dilakukan melalui proses-proses kolaborasi antar para guru. Lewis (2002)mendeskripsikan proses-proses tersebut sebagai langkah-langkah kolaborasi dengan guru-guru untuk merencanakan (plan), mengamati (observe), dan melakukan refleksi (reflect) terhadap pembelajaran (lessons). Lebih lanjut, dia menyatakan, bahwa Lesson study adalah suatu proses yang kompleks, didukung oleh penataan tujuan secara kolaboratif, percermatan dalam pengumpulan data tentang belajar siswa, dan kesepakatan yang memberi peluang diskusi yang produktif tentang isu-isu yang sulit. LS pada hakikatnya merupakan aktivitas siklikal berkesinambungan yang memiliki implikasi praktis dalam pendidikan.

Manfaat Lesson Study
Manfaat yang yang dapat diambil Lesson Study, diantaranya: (1) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (2) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota lainnya, dan (3) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study. Lesson Study dapat dilakukan melalui dua tipe yaitu berbasis sekolah dan berbasis MGMP. Lesson Study dilakukan berdasarkan tahapan-tahapan secara siklik, yang terdiri dari: (1) perencanaan (plan); (b) pelaksanaan (do); refleksi (check); dan tindak lanjut (act).

Tahapan-Tahapan Lesson Study

Berkenaan dengan tahapan-tahapan dalam Lesson Study ini, dijumpai beberapa pendapat. Menurut Wikipedia (2007) bahwa Lesson Study dilakukan melalui empat tahapan dengan menggunakan konsep Plan-Do-Check-Act (PDCA). Sementara itu, Slamet Mulyana (2007) mengemukakan tiga tahapan dalam Lesson Study, yaitu : (1) Perencanaan (Plan); (2) Pelaksanaan (Do) dan (3) Refleksi (See). Sedangkan Bill Cerbin dan Bryan Kopp dari University of Wisconsin mengetengahkan enam tahapan dalam Lesson Study, yaitu:
1. Form a Team: membentuk tim sebanyak 3-6 orang yang terdiri guru yang bersangkutan dan pihak-pihak lain yang kompeten serta memilki kepentingan dengan Lesson Study.
2. Develop Student Learning Goals: anggota tim memdiskusikan apa yang akan dibelajarkan kepada siswa sebagai hasil dari Lesson Study.
3. Plan the Research Lesson: guru-guru mendesain pembelajaran guna mencapai tujuan belajar dan mengantisipasi bagaimana para siswa akan merespons.
4. Gather Evidence of Student Learning: salah seorang guru tim melaksanakan pembelajaran, sementara yang lainnya melakukan pengamatan, mengumpulkan bukti-bukti dari pembelajaran siswa.
5. Analyze Evidence of Learning: tim mendiskusikan hasil dan menilai kemajuan dalam pencapaian tujuan belajar siswa
6. Repeat the Process: kelompok merevisi pembelajaran, mengulang tahapan-tahapan mulai dari tahapan ke-2 sampai dengan tahapan ke-5 sebagaimana dikemukakan di atas, dan tim melakukan sharing atas temuan-temuan yang ada.
Untuk lebih jelasnya, dengan merujuk pada pemikiran Slamet Mulyana (2007) dan konsep Plan-Do-Check-Act (PDCA), di bawah ini akan diuraikan secara ringkas tentang empat tahapan dalam penyelengggaraan Lesson Study